Friday, 6 Syawwal 1441 / 29 May 2020

Friday, 6 Syawwal 1441 / 29 May 2020

Iran: Penyitaan yang dilakukan Inggris Langgar JCPOA

Ahad 28 Jul 2019 19:22 WIB

Rep: Lintar Satria Zulfikar/ Red: Nidia Zuraya

Kapal tanker berbendera Inggris Stena Impero di pelabuhan Iran Bandar Abbas, yang ditahan Garda Revolusi Iran saat berada di Selat Hormuz, Sabtu (20/7).

Kapal tanker berbendera Inggris Stena Impero di pelabuhan Iran Bandar Abbas, yang ditahan Garda Revolusi Iran saat berada di Selat Hormuz, Sabtu (20/7).

Foto: Tasnim News Agency/via AP
Inggris bersitegang dengan Iran setelah Garda Revolusi menyita kapal tanker Inggris

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- Kantor berita Iran ISNA melaporkan Deputi Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan Inggris telah melanggar kesepakatan nuklir Iran 2015 dengan menyita kapal tanker mereka. Araqchi juga anggota tim negosiasi kesepakatan nuklir Iran 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JPCOA).

"Kami menyaksikan penyitaan kapal tanker yang membawa minyak Iran di Selat Gibraltar yang menurut pandangan kami melanggar JCPOA, dan negara-negara yang terlibat dalam kesepakatan tersebut harusnya tidak menghalangi ekspor minyak Iran," kata Araqchi, Ahad (28/7).

Inggris bersitegang dengan Iran setelah Garda Revolusi Iran menyita kapal tanker berbendera Britania Raya pada Jumat (19/7) lalu. Menurut Iran kapal tanker itu bertabrakan dengan kapal nelayan.

Inggris yakin penyitaan itu sebagai tindak balasan karena Angkatan Laut Inggris menyita kapal tanker Iran yang menyalahi sanksi Uni Eropa ke Suriah di Gibraltar. Inggris pun membentuk koalisi angkatan laut negara-negara Eropa untuk mengawal kapal-kapal tanker dan kargo di Teluk Persia.

Sebelumnya diberitakan Iran juga telah memprotes pembentukan koalisi tersebut.  Berdasarkan laporkan kantor berita semiresmi Iran yakni Fars juru bicara pemerintah Iran Ali Rabie mengatakan koalisi itu memberikan pesan permusuhan terhadap Iran.

"Apa yang Anda dengar, bahwa mereka ingin mengirimkan armada Eropa ke Teluk Persia mengirimkan pesan permusuhan, ini provokatif dan akan meningkatkan ketegangan," kata Rabiei.

Pekan lalu tiga diplomat senior Uni Eropa mengatakan Prancis, Italia dan Denmark mengisyarakatkan mendukung rencana Inggris tersebut. Misi angkatan laut yang dipimpin Eropa ini untuk memastikan keamanan kapal-kapal yang berlayar melalui Selat Hormuz.

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA