Monday, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 January 2020

Monday, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 January 2020

BI: Cabai Merah Penyumbang Inflasi Tinggi

Jumat 26 Jul 2019 14:21 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Friska Yolanda

Harga Cabai Naik. Pedagang menghitung harga cabai yang siap jual di Pasar Inpres Senen, Jakarta Pusat, Ahad (21/7).

Harga Cabai Naik. Pedagang menghitung harga cabai yang siap jual di Pasar Inpres Senen, Jakarta Pusat, Ahad (21/7).

Foto: Fakhri Hermansyah
Masyarakat diimbau mulai mengonsumsi cabai olahan atau cabai kering.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi pada minggu ketiga Juli 2019 sebesar 0,23 persen secara bulanan dan 3,23 persen secara tahunan. Adapun prediksi tersebut berdasarkan hasil survei pemantauan harga yang dilakukan Bank Indonesia.

Baca Juga

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan ada beberapa komoditas menjadi penyumbang inflasi pada bulan ini. Salah satunya, total andil komoditas cabe rawit ke inflasi sebesar 0,12 persen. 

“Penyebab tingginya harga cabai adalah jadwal panen di luar musimnya dan pola konsumsi masyarakat yang lebih menyukai cabai segar,” ujarnya kepada wartawan di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (26/7).

Perry pun menyarankan agar masyarakat bisa mulai mengonsumsi cabai kering. Selain cabai rawit, komoditas emas dan perhiasan menyumbang inflasi sebesar 0,4 persen hingga 0,6 persen.

"Pola konsumsi masyarakat juga, makanya mulai juga biasakan ingin pedas tidak harus fresh, kan sudah mulai banyak cabai kering enak, tetap pedasnya sama. Kita biasakan cabai kering. Geprek pakai cabai kering sama saja," jelasnya.

Sementara, terdapat juga beberapa komoditas penyumbang deflasi karena terjadi penurunan harga. Semisal, tarif angkutan antar kota, bawang merah, tomat sayur dan daging ayam ras.

“Komoditas yang mengalami penurunan seperti tarif angkutan antar kota 0,08 persen, bawang merah 0,06 persen, daging ayam ras 0,02 persen,” ungkapnya.

Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi kebijakan dengan pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah. Langkah ini guna memastikan inflasi tetap rendah dan stabil, termasuk dalam mengantisipasi musim kemarau yang lebih awal dan panjang. 

“Akhir tahun inflasi di bawah titik tengah sasaran 3,5 persen plus minus 1 persen,” ucapnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA