Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Makan Bubur Panas dan Mission Impossible ke Jalur Gaza

Jumat 26 Jul 2019 12:08 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Warga Palestina sedang menanti antrean untuk melewati pintu Raffah di Jalur Gaza.

Warga Palestina sedang menanti antrean untuk melewati pintu Raffah di Jalur Gaza.

Foto: AP/Eyad Baba
Kisah Mission Impossible tim kemanusian Muhammadiyah ke Jalur Gaza.

Oleh: Dr Sudibyo Markus, Warga Muhammadiyah

Dari dahulu ada nasihat bijak ketika menghadapi sesuatu yang sulit, bahkan terkesan tak mungkin. Nasihat para tetua itu adalah benahi persoalan dari hal sepele atau paling pinggir. Ibaratnya, ”Makan bubur panas itu harus mulai dari pinggir. Selesaikan maslah sulit mulai dari yg gampang dulu."

Kebetulan cara berfikir ini sangat ampuh ketika hendak mengurai masalah mengirimkan bantuan ke Jalur Gazza Palestina beberapa waktu lalu. Semua orang menganggap tindakan sulit, atau istilah Srimulatnya: hil yang mustahal (hal yang mustahil).

Bayangkan, ketika hendak kirim bantuan ke sana, yakni pada Januari 2009, saat itu pintu masuk ke Palestina dari Gerbang Rafah ditutup oleh Mesir. Akibatnya, 
tim kemanusiaan kami yang dari Indonesia tak bisa lagi masuk Gaza untuk menolong korban serangan Israel yang terjadi pada Desember 2008.

Kami dari tim kemanusiaan Muhammadiyah yang sudah siap masuk ke sana dengan beberapa hari transit di Amman (Jordan) terkendala. Tim dari Kementrian Kesehatan yang juga sudah seminggu lebih dahulu agar bisa masuk ke Gaza, menunggu sia-siadi Kairo. Mereka kemudian memutuskan pulang  pulang tanpa bisa masuk ke Gaza.



Melihat situasi ini dan merasa putus asa tak akan bisa masuk Gaza, Dr Ardiansyah SpB dari RS Islam Jakarta yang bertidak selaku Ketua Tim kemanusian Muhammadiyah, kala itu langsung kirim SMS ke saya. Intinya minta izin untuk diijinkan pulang ke Jakarta.

Saya masih ingat saat SMS terkirim, kala itu saya sedang liburan dan tengah momong cucu di pantai Australia. Adanya SMS tersebut  saat itu langsung saya jawab: tunggu saya akan cari jalan lain masuk ke Gaza. Saat itu, saya Ketua PP Muhammadiyah waktu itu (2005-2010).

Saya membantin sembari jawab SMS dari perbatasan Raffah tersebut, "Apa kata dunia kalau tim kemanusian Muhammadiyah gagal masuk Gaza?
"

Setelah kasus itu, saya kemudian menjadi tahu bahwa satu-satu cara masuk ke Gaza tak hanya dari Gerbang di Raffah. Ada cara lain? Yakni ternyata selain lewat Raffah, ada celah masuk ke Gazza dari celah Erez yang ada di sebelah utara.

Namun, kemudian ada soal lain, yakni harus "permisi" lewat territori Israel. Lazimnya, para peziarah yang akan ke Mesjidil Aqsa juga lewat jalur yang melalui Yordania ini, lalu menyeberang ke perbatasan Jordan/Israel, terus ke Jrusalem.

Pikir saya, apa salahnya Tim kemanusiaan Muhammadiyah juga masuk Gaza lewat Celah Erez yang melalui wilayah Israel itu. Apalagi, saat itu keberadaan tim tersebut tengah berada di Amman.


photo

Peta jalur Gazza Palestina

Menyadari hal itu saya langsung hubungi berturut-turut berbagai tokoh. Ini misalnya, Dr Iyang Iskandar, Sekjen PMI untuk melaporkan keadaan tim, Dr Jounis al-Khitib, Ketua Bulan Sabit Merah Palestina untuk lapor dan minta dukungan. Prof al-Hadith, Ketua IFRC Geneva/Staf Khusus Ratu Jordan yang punya akses baik ke Israel dan Gaza, untuk meminta dukungan logistik agar bisa tetap dikirim ke Gaza.

Selain itu, saya hubungi pula Dr Hanny al-Bana, Ketua Humanitarian Forum (HF)London yang punya pos di Gaza, Dr Moh Soussy, staf lapangan HF di Gaza agar  siap jemput Tim kita di Erez.dan tak lupa pula, kami hubungi Steve Stein, Liaison Officer Magen David Adom (MDA/Palang Merah Israel).

Meski demikian dan banyak tokoh yang dihubungi soal masih tetap sulit pemecahannya. Ini misalnya, walau MDA juga anggota IFRC, tapi ini tetap paling sulit diyakinkan. Saya pun sempat SMS Steve begini, ”Steve, would you do me a favor?" Di situ saya kemudian jelaskan bila Tim Kemanusian Muhammadiyah terdampar di Amman. Mereka juga tak bisa msk Gaza lewat Celah Raffah.

Permintaan saya kepada dia, "Apa bisa tim kami diijinkan masuk lewwt Celah Erez yang melalui Israel?"
 Nah, ternyata, hanya butuh waktu 30 menit untuk dia jawab, “Ok’’. Dia membalas begini, "Timmu ditunggu di Israel Embassy di Amman untuk urus Visa on arrival." 


Maka besok harinya tim kami langsung diantar KBRI ke perbatasan dan dijemput oleh MDA Israel. Di sana sempat  ziarah ke Masjidil Aqsha. Keesokan paginya langsung berangkat menuju Celah Erez setelah bermalam di Tel Aviv. Dan pada Maghrib tim kami tiba di Erez dengan dijemput oleh Dr Mohammad Soussy. 


Alkhamdulillah Tim kemanusiaan Muhammadiyah dan Yakkum itu kemudian bertugas selama seminggu di RS Gaza, sebelum akhirnya pulang ke Jakarta  melalui jalur yang sama.


Dan terkait hal ini, Wakil Dubes RI di Jordan kala itu sempat keheranan. Katanya: bagaimana tim yang sudah akan pulang ke Jakartat, hanya dalam dua jam tiba-tiba dapat ke Gaza?

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA