Monday, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 January 2020

Monday, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 January 2020

Gelombang Panas Semakin Ekstrem di Eropa

Jumat 26 Jul 2019 09:45 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Warga mendinginkan diri di kolam air mancur Trocadero dengan latar belakang menara Eiffel di Paris, Prancis, Selasa (25/6). Gelombang panas menerjang Eropa. Suhu 45 derajat Celsius diperkirakan terjadi di Prancis.

Warga mendinginkan diri di kolam air mancur Trocadero dengan latar belakang menara Eiffel di Paris, Prancis, Selasa (25/6). Gelombang panas menerjang Eropa. Suhu 45 derajat Celsius diperkirakan terjadi di Prancis.

Foto: AP Photo/Alessandra Tarantino
Suhu di Eropa meningkat lima kali lipat dibandingkan sebelumnya.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Gelombang panas ekstrem masih melanda Eropa. Sejumlah negara Eropa seperti Jerman, Belanda, Belgia, dan Prancis mencatat rekor suhu tertinggi sepanjang masa. Para ilmuwan mengatakan, krisis iklim membuat suhu musim panas di Eropa meningkat lima kali lipat dibanding sebelumnya. 

Baca Juga

Royal Netherlands Meteorological Institute (KNMI) menyatakan, suhu di Belanda mencapai 39,9 derajat celcius. Sementara, suhu di stasiun pemantauan cuaca, di pangkalan udara Gilze-Rijen mencatat kenaikan suhu pada Kamis (25/7) sore mencapai 40,4 derajat celcius. Sedangkan, berdasarkan Institut Meteorologi Kerajaan Belgia (KMI-RMI), suhu di Kleine Brogel yang dekat dengan perbatasan Belanda naik menjadi 40,6 derajat celcius.

"Ini adalah suhu tertinggi yang pernah dicatat oleh Belgia sepanjang sejarah, sejak awal pengukuran suhu tahun 1833," ujar Alex Dewalque dari KMI-RMI, dilansir Guardian, Jumat (26/7).

Badan layanan cuaca nasional Jerman, DWD mencatat suhu di kota Lingen naik menjadi 41,5 derajat celcius. Kenaikan suhu tersebut terjadi sehari setelah DWD menyatakan bahwa suhu tertinggi nasional Jerman tercatat mencapai 40,5 derajat celcius. 

Sementara, badan meteorologi Prancis, Meteo-France mencatat suhu di stasiun Paris-Montsouris mencapai 40,4 derajat celcius dan terus merangkak naik hingga 42,6 derajat celcius pada siang hari. Badan tersebut menyatakan, suhu tersebut serupa dengan suhu rata-rata maksimum di Baghdad, Irak pada bulan Juli. 

Suhu panas membuat perjalanan kereta api menjadi terhambat, karena rel kereta yang melengkung. Operator kereta api Prancis, SNCF, dan Metro menyarankan para pengguna kereta api untuk menggunakan moda transportasi lain atau menunda perjalanan mereka. 

"Saya meminta semua orang yang dapat menghindari atau menunda perjalanan mereka. Cuaca sepanas ini tidak hanya berdampak pada kesehatan semua orang," ujar Menteri Lingkungan Prancis, Elisabeth Borne. 

Perdana Menteri Prancis, Eduardo Philippe mengimbau kepada warganya untuk menjaga diri. Sejumlah kota besar di Prancis, termasuk Lille, Rouen, Dijon, dan Strasbourg telah memecahkan rekor suhu tertinggi sepanjang masa. 

Sementara itu, perusahaan kereta api Jerman, Deutsche Bahn juga menyarankan kepada para penumpang untuk menunda perjalanan mereka. Perusahaan tersebut tidak memberikan biaya tambahan bagi para penumpang yang ingin menunda perjalanan mereka tetapi sudah terlanjur membeli tiket.

Puncak gelombang panas terjadi pada Kamis (26/7). Cuaca diperkirakan akan sedikit menurun pada Jumat. Namun, Prancis, Italia, dan Belgia tetap dalam siaga merah. Sebuah studi yang diterbitkan oleh Insitut Teknologi Federal Swiss menyatakan, gelombang panas pada musim panas di seluruh Eropa merupakan akibat dari perubahan iklim yang didorong oleh aktivitas manusia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA