Sunday, 1 Jumadil Akhir 1441 / 26 January 2020

Sunday, 1 Jumadil Akhir 1441 / 26 January 2020

Kecepatan Jalan Kaki Bisa Prediksi Kesehatan di Masa Depan

Jumat 26 Jul 2019 08:18 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih

Jalan kaki (Ilustrasi)

Jalan kaki (Ilustrasi)

Foto: AP
Terbiasa jalan terlalu santai akan menunjukan indikasi tertentu

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Berjalan kaki terlihat sebagai aktivitas fisik yang biasa saja ketika dibandingkan dengan lari atau bersepeda. Padahal, kegiatan yang bisa dilakukan banyak orang ini sebenarnya memiliki manfaat yang tidak biasa.

Peneliti telah menemukan berjalan di luar untuk beberapa blok dengan kecepatan santai memainkan peran penting dalam menjalani kehidupan yang sehat dan bersemangat. Memutuskan untuk bergerak aktif meski hanya berjalan dapat menjadi prediksi masalah mobilitas di masa depan.

Studi yang dipublikasikan dalam Journal of American Geriatrics Society menunjukkan, berjalan dengan kecepatan lambat sekalipun dapat memberikan manfaat. Namun, penelitian ini menemukan terbiasa jalan terlalu santai akan menunjukan indikasi tertentu di masa depan.

Para peneliti dari University of Pittsburgh di Amerika Serikat menilai cara untuk mengukur tugas-tugas berjalan yang kompleks. Cara ini dilakukan untuk mempelajari lebih lanjut tentang perubahan awal dalam berjalan.

Dalam studi itu, ditemukan kecepatan berjalan yang lambat di bawah kecepatan normal dan kondisi kompleks dikaitkan dengan risiko yang lebih besar untuk mengembangkan ketidakmampuan mobilitas. Peserta yang dilaporkan memiliki ketidakmampuan mobilitas lebih cenderung perempuan, diabetes, obesitas, sakit lutut, dan kesulitan bernapas. Mereka juga memiliki lebih banyak gejala depresi.

Peneliti menganalisis informasi dari studi Penuaan dan Komposisi Tubuh Kesehatan yang melibatkan orang dewasa kulit hitam dan putih di AS dari 1997 hingga 1998. Sebanyak 337 partisipan berusia 70 hingga 79 tahun dan tidak mengalami kesulitan berjalan seperempat mil atau mendaki 10 langkah tanpa istirahat.

Selama studi, para peserta berjalan di beberapa jalur yang berbeda. Mereka diberikan beberapa tantangan berbeda untuk mengukur kecepatan berjalan. Mereka pun diuji kemampuan untuk mengatasi tugas-tugas mental dan fisik pada saat yang bersamaan.

Kemudian, peneliti menindaklanjuti peserta setiap enam bulan untuk melihat apakah memiliki kesulitan berjalan seperempat mil karena masalah kesehatan atau fisik. Peserta melaporkan masalah mobilitas atau ketidakmampuan setiap tahun pada kunjungan langsung.

Pada tahap akhir di tahun kedelapan, lebih dari setengah dari peserta telah mengembangkan ketidakmampuan mobilitas. Ini berarti mereka tidak dapat berjalan seperempat mil.

Hampir 40 persen mengalami ketidakmampuan kronis yang berlangsung setidaknya dua tahun. Dari hasil tersebut, peneliti menyimpulkan mengukur kecepatan berjalan yang sederhana mungkin cukup untuk mengetahui apakah individu berisiko terhadap masalah mobilitas di masa depan atau tidak.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA