Sunday, 16 Muharram 1441 / 15 September 2019

Sunday, 16 Muharram 1441 / 15 September 2019

Samudera Terangkat: Diponegoro, Dakwah, Brujul, Jamjaneng

Jumat 26 Jul 2019 04:53 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Situs Dangau empu Astrajingga yang menobati sakitnya Pangeran Diponegoro di tengah perbukitan Brujul, Peniron, Kebumen.

Situs Dangau empu Astrajingga yang menobati sakitnya Pangeran Diponegoro di tengah perbukitan Brujul, Peniron, Kebumen.

Foto: muhammad subarkah
Rute gerilya Diponegoro, dakwah dan pengaruh tradisi Jamjaneng.

Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika

Sebelumsempat  mendaki ke bukit Brujul di Peniron, Kebumen bagian utara, kisah perjuangan Diponegoro memang layaknya isapan jempol belaka. Kalau hanya membaca buku ‘Kuasa Ramalan’ karya Peter Carey tentang kecamuk Perang Jawa 1825-1830. perang tersebut memang terkesan hanya seperti film atau sinetron. Semua seolah serba manis seperti kisah fiksi yang dinikmati sembari kunyah kentang goreng di ruang bioskop ber-AC yang sejuk.

Tapi ketika sampai di salah satu ruas perbukitan Serayu Selatan itu (akrab dipanggil juga Pegunungan Urut Sewu) kesan melankoli seketika sirna. Apalagi setelah mulai menapaki kaki bukit berbatu perbuktikan Brujul atau perbukitan di sekitar Museum Geologi LIPI di Karang Sambung, Kebumen. Di situ terpapar betapa dahsyat pengorbanan, pengalaman raga dan jiwa  Pangeran Diponegoro dari Keratorn Mataram Yogyakarta yang juga punya nama kecil RM Mutahar itu.

Batin pun jelas tercekat dan bertanya-tanya: untuk apa pangeran ini bersusah payah naik turun lembang Lukulo dan perbukitan Serayu Selatan yang jelas tak mudah itu? Apa yang dicari ke luar masuk belukar, lembah, rawa, hutan, hingga perbukitan? Kalau sekedar mapan, Diponegoro sudah kaya raya. Saat itu dia pangeran paling kaya di Kesultanan Yogyakarta. Tak hanya tanah dan persawahan yang luas dia punyai, dia punya ‘pekatik’ (tukang pelihara kuda) hingga 700 orang, untuk mengurus kuda 70 ekor (Coba bandingkan dengan Prabowo yang menuai heboh padahal hanya karena pelihara kuda beberapa ekor saja). Bahkan saking kayanya, Sultan Jogja kala itu juga iri terhadap kekayaannya.

Ngantepi Islam Samya Nglampahi parentah dalil. Ing Qur'an pan Ayat Katal (Bersama memantapkan Islamnya, melaksanakan perintah dalil Alquran tentang ayat qital (jihad),’’ begitu kredo Pangeran Diponegoro atas perang yang dikobarkannya.

Uniknya, sisa semangat itu terlihat jejaknya sangat jelas di kawasan ini. Tak hanya jejak budaya, jejak situs dan kisah keperwiraannya pun berserakan di wilayah ini. Tak hanya cerita soal peperangan, jejaknya juga menyatu dalam kisah penyebaran budaya dakwah Islam. Semua tersublim satu dalam beragam ekpresi.

Taufik, anak muda yang mengurusi wisata 'Adventure Puncak Brujul' di Peniron ini pun dengan senang hati menunjukan jejak (orang Jawa menyebut Petilasan) dari sang pangeran tersebut. Tak hanya tempat dia mengatur pasukan dan shalat, tempat Pangeran Diponegoro mendapat perawatan saat sakit (terindikasi sakit malaria dengan mengutip Pater Carey yang bercerita di akhir perang Diponegoro sempat terserang Malaria ketika bergerilya di sekitar hutan dan pegunungan Banyumas atau Jawa tengah bagian Selatan).

‘’Di rumah ini, rumah seorang pande besi Empu Astraguna, Diponegoro sempat mendapat perawatan karena sakit,’’ kata Taufik sembari menunjukan gubuk semi permanen (dangau) yang berada di tengah perbukitan terpencil. Astrajingga di kenal seorang pande besi (pembuat senjata) jempolan. Di sekitar rumahnya dahulu sempat ditemukan banyak serbuk besi oleh para penduduk desa.

photo

Situs Watu Jaran (batu kuda). Situs ini dahulu merupakan tempat menambatkan 'Kyai Gentayu' (kuda Pangeran Diponegoro) saat berobat di rumah empu Astrajingga, di tenhah area Bukit Brujul, Peniron, Kebumen.

Dan ketika memandangi rumah kecil (dangau persinggahan) itu,  para penduduk setempat sampai kini masih mampu mengenang tempat penambatan kuda Pangeran Diponegoro yang disebut dengan panggilan Kyai Gentayu. Di dekat dangau empu Astrajingga itu memang ada tiga buah batu hitam yang cukup. Batu yang tengah adalah bekas penambatan kuda tersebut. Bagi para warga setempat situs itu disebut ‘Watu Jaran’ (Batu Kuda).

“Tak hanya di sini, petilasan (jejak) pangeran Diponegoro pun dijadikan tempat ziarah. Di puncak bukit Brujul ada situs yang dahulu di pakai Diponegoro untuk shalat dan mengatur pasukan. Sekarang banyak orang yang datang ke sana untuk berziarah dan pengajian. Bahkan ada seorang ‘Gus’ dari Pesantren Buntet, Cirebon, beberapa waktu terakhir ini beberapa kali bersama saya pergi ke sana. Dia yang bercerita soal kisah petilasan Diponegoro itu,’’ kata Taufik.

Apa yang dikatakan Taufik jelas tak mengada-ada. Untuk mencapai tempat itu jelas butuh sat perjuangan dan tekad yang kuat. Baik dangau milik Empu Astrajingga atau Puncak Brujul lokasinya tak mudah dijangkau karena harus berjalan mendaki bukit dan terselip di tempat terpencil. Sekarang saja, meski sudah ada jalan setapak, untuk mencapai tempat itu masih cukup sulit dan tersembunyi dari keramaian.

Sekarang pun selain merupakan lokasi perbukitan,di sekitar sana ada hutan pinus, persawahan, area rumpun bambu, hingga lokasi tanaman tembakau. Pilihan Pangeran Diponegoro untuk melintas di Brujul/Peniron atau daerah sekitarnya adalah pilihan tepat sebagai cara untuk menghindar dari kejaran dan jangkauan mata-mata tentara Belanda yang terdiri dari tak hanya orang kulit putih Eropa, namun juga bangsa sendiri baik orang Jawa, Ternate, atau Ambon.

photo

Pasar desa Peniron. warga di sana ada yang menyebut pasar Majapahit. Mungkin beginilah pasar tardisonal Jawa di masa lalu yang terdiri dari sekumpulan dangau tempat pedagang dan pembeli berinteraksi,

Maka masuk akal, bila Diponegoro memilih bergerilya dengan lari melintas ke atas bukit. Tampaknya dia dan para penasihat perangnya sadar bila terus nekad berkelindan di Lembah Lukulo yang datar pasukannya akan terus dijepit dengan taburan benteng pasukan, yakni ramuan taktik Benteng Stelsel. Benteng terus berdiri di mana-mana untuk menjepitnya di sekujur wilayah pesisir selatan Jawa. Benteng ini berpusat di benteng Vander Wijk yang ada di Gombong.

Di kemudian hari seusai perang, di daerah ini tersebar anak keturunan para pengikut Diponegoro. Nun, beberapa kilometer di pinggir pantai selatan Kebumen misalnya warga lokal sudah dari dahulu menyebut adanya jalan Diponegoro. Ruas jalan ini mengarah dari arah barat (Kebumen) menuju timur yakni ke arah area Bandara Yogyakarta Baru, di Kulon Progo. Lokasi ini bila terus ke timur jelas arahnya menuju rumah kediaman Pangeran Diponegoro di Tegalrejo, Yogyakarta.

Bahkan tak hanya itu, warga di sana juga mengenal adanya beberapa tempat yang dari terkenal sebagai daerah basis persembunyian para pangeran dari Kesultanan Yogyakarta. Dari kisah yang diturunkan secara berjenjang lintas generasi, para tetua mengisahkan keseruan perang itu, misalnya kesibukan bala tentara Diponegoro di dalam menghadapi tentara Belanda. Dan karena sudah merupakan cerita lisan, maka kadang kisah perang sudah bercampur dengan mitologi rakyat setempat. Misalnya, kisah panen ikan lele pada sebuah markas di sebuah pedukuhan desa setelah ditinggal pasukan Diponegoro.

‘’Anak turun Pangeran Diponegoro dan prajuritnya memang menyebar di daerah ini (selatan Jawa). Mereka banyak yang menjadi pengasuh pesantren atau Kiai. Bahkan masyarakat punya cerita tutur bila markas tentara Diponegoro itu berada pada sebuah masjid (langgar), misalnya berada di sebuah masjid tua yang berada di Dusun Kaligandu, Klirong. Kisah pertemuan para kyai dan anggota laskar terpatri di sana,’’ kata Amrudin, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kebumen.

photo

Masjid Kaligandu, Kilrong, Kebumen. Di sini dahulu merupakan markas pasukan Diponegoro. Setelah direbut Belanda di lokasi ini dahulu berdiri sebuah benteng semi permanen.

Tak hanya itu, lanjut Amir, di desa yang menjadi markas pasukan Diponegoro setelah direbut bala tentara Belanda didirikan sebuah benteng pasukan sebagai pelaksana taktik menjepit gerak Diponegoro melalui strategi benteng stelsel yang terkenal itu. Tak hanya itu di seluruh pelosok wilayah itu juga banyak berdiri benteng pasukan Belanda yang serupa, misalnya di Petanahan, Mirit, Panjer. Benteng ini terbuat dari dari batang pohon kelapa yang ditata dan dibuat sebagai tembok. Fungsinya sebagai benteng pasukan lapangan agar bisa bergerak cepat dari satu tem[at ke tempat lain.

"Saking bencinya kepada Belanda, di masyarakat Kaligandu itu sampai kini masih ada kepercayaan siapa pun pejabat pemerintah yang ke sana pasti akan jatuh. Lucunya, sampai kini meski sudah merdeka mitos atau pamali itu masih dipercaya. Sampai-sampai seorang anak kampung Kaligandu yang jadi pejabat tak berani pulang silaturahim ke orang tuanya ketika masih menjadi 'orang penting'. Setiap kali si-pejabat ingin bertemu dengan orang tuanya, maka terpaksa pertemuan di atur di lokasi lain. Wibawa Diponegoro masih terasa di sana sampai hari ini,'' ujar Amirudin.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA