Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Laba Danamon Turun karena Tingginya Biaya Dana

Kamis 25 Jul 2019 02:50 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Friska Yolanda

PT Bank Danamon memaparkan Kinerja Keuangan pada Semester I 2019 di Menara Danamon, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (24/7).

PT Bank Danamon memaparkan Kinerja Keuangan pada Semester I 2019 di Menara Danamon, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (24/7).

Foto: Republika/Lida Puspaningtyas
Danamon optimistis biaya dana akan turun seiring dengan turunnya suku bunga acuan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Bank Danamon Indonesia Tbk melaporkan laba bersih sebesar Rp 1,8 triliun pada semester I 2019. Laba bersih tersebut turun dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 2,01 triliun karena tingginya biaya dana (cost of fund).

Baca Juga

Direktur Keuangan Bank Danamon, Satinder Pal Singh Ahluwalia menyampaikan terjadi kenaikan biaya dana sejak tahun lalu yakni sekitar satu persen atau 100 basis poin. Namun ia optimistis pada semester II biaya dana akan turun seiring dengan penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia. 

"Imbasnya semoga kita dapat dirasakan pada tahun ini juga," kata dia. 

Untuk porsi giro dan tabungan tercatat naik delapan persen, sementara deposito naik 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Di semester pertama tahun 2019, total portofolio kredit dan trade finance tumbuh 11 persen menjadi Rp 148 triliun.

Kredit ini ditopang oleh kredit KPR yang tumbuh 28 persen menjadi Rp 8,8 triliun secara tahunan. Sementara kredit korporasi yang terdiri dari segmen perbankan korporasi, komersial, dan institusi keuangan naik 15 persen menjadi Rp 44,3 triliun.

Untuk segmen UKM tercatat tumbuh 15 persen dari tahun sebelumnya menjadi Rp 35 triliun. Satinder menyampaikan kredit penopang terbesar masih dipegang oleh kredit kendaraan bermotor yang disalurkan melalui anak perusahaan Adira Finance.

Direktur Adira Finance, Hafid Hadeli menyampaikan kredit tumbuh 12 persen menjadi Rp 53,9 triliun pada semester pertama. Ia mengatakan pertumbuhan ini karena tahun lalu pertumbuhan masih cukup tinggi dibanding industri yakni naik empat persen.

Pembiayaan roda dua dan roda empat tumbuh masing-masing sebesar 13 persen. NPL tercatat pada posisi 3,2 persen, turun dibandingkan 3,3 persen di akhir semester pertama 2018. Menurut Satinder, level ini masih cukup normal dengan ekspansi pembiayaan yang tinggi.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA