Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

Elevated KA Cimahi-Gedebage Dinilai Urgen Dibangun

Rabu 24 Jul 2019 18:35 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Dwi Murdaningsih

Ilustrasi rel kereta api.

Ilustrasi rel kereta api.

Foto: Republika/Agung Supriyanto
Lalu lintas akan lebih macet jika KA Cimahi-Gedebage tidak dibangun elevated,

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Pembangunan eleveted kereta api (KA) Cimahi-Gedebage dinilai urgen dibangun. Menurut Sekda Provinsi Jabar, Iwa Karniwa, jika  jalur KA ini tidak dilakukan dengan elevated maka akan membuat lalu lintas lebih macet lagi.

"Jadi, ada studi dari Prancis elevated kereta api dimulainya dari Cimahi ke Gede bage sehingga lalu lintas bidang yang sekarang hanya lima menit ini harus diantisipasi, itu lah kereta api harus di atas dari jalur Cimahi sampai Gedebage ini," ujar Iwa kepada wartawan di Gedung Sate Rabu (24/7).

Menurut Iwa, saat ini kondisinya setiap lima menit sekali tertutup. Maka kalau tidak dilakukan dengan elevated ini, kondisinya akan lebih macet lagi.

"Makanya ini koordinasi dengan pemerintah pusat dan Dirjen kereta api, ini hasil studi dibutuhkan sekitar Rp 1,6 triliun ini harapannya dari APBN. Ini lah langkah strategis," katanya.

Untuk kereta api cepat, kata dia, akan terkoneksi dengan delapan LRT. Menurut Iwa, saat bertemu dengan Dirjen, ia pun melaporkan proses pembangunannya sudah dirancang sesuai regulasi Perpres 45/2018 tentang Cekungan Bandung dan Pergub tentang Tata Wilayah. Kemudian, dilaporkan juga terkait rencana induk kereta api.

Pembangunan Kereta Api Perkotaan Trase Tegalluar-Stasiun Bandung, kata Iwa, akan melayani empat stasiun yakni Stasiun Tegalluar, Stasiun Laswi, Stasiun Aljabbar dan Stasiun Bandung dengan jarak tempuh total sejauh 16,2 Km. Transportasi ini terdiri dari empat rangkaian, kapasitas angkut per hari bisa mencapai 16 ribu penumpang dari dua arah.

Baca Juga

Nantinya, jalur tersebut terkoneksi dengan jalur Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) dengan Stasiun Tegalluar sebagai stasiun transitnya.KCIC, kata dia, berkecepatan operasional 70 km/jam (Bandung-Cimekar) dan 55 km/jam (Cimekar-Tegalluar). Sehingga rata-rata kecepatan 65 km/jam.

"Waktu tempuhnya 27 menit dan waktu naik turunya penumpang 5 menit, rencana investasi totalnya Rp 3,96 triliun,” ujar Iwa.

Iwa mengatakan, ada beberapa hal yang menjadi catatan, di antaranya taraf banding dengan KCIC, kajian flyover atau underpass di persimpangan jalan raya, hingga penambahan implan semen di Stasiun Laswi dan Aljabbar. “Harapan kami untuk Tegalluar-Stasiun Bandung itu bisa selesai di bulan Mei 2021, artinya selesai satu bulan sebelum selesainya kereta api cepat di bulan Juni 2021,” kata Iwa.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA