Sunday, 24 Jumadil Awwal 1441 / 19 January 2020

Sunday, 24 Jumadil Awwal 1441 / 19 January 2020

Jokowi dan Putra Mahkota Abu Dhabi Tanam Pohon Damar

Rabu 24 Jul 2019 14:44 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Presiden Joko Widodo dan Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Mohamed Bkn Zayed Al Nahyan saat melakukan penanaman pohon damar bersama-sama di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Rabu (24/7).

Presiden Joko Widodo dan Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Mohamed Bkn Zayed Al Nahyan saat melakukan penanaman pohon damar bersama-sama di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Rabu (24/7).

Foto: Republika/Sapto Andiko Condro
Jokowi dan Putra Mahkota Abu Dhabi menyepakati sejumlah kerjasama.

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR— Presiden Joko Widodo dan Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Mohamed Bin Zayed Al Nahyan menanam pohon damar (agathis dammara (lamb) rich) di halaman Istana Kepresidenan Bogor pada Rabu (24/7).

Baca Juga

Keduanya menyendok tanah dengan sekop ke bibit pohon damar setinggi sekitar 1 meter tersebut lalu menyiramkan air ke lubang pohon sambil sesekali berbincang.

Penanaman pohon tersebut merupakan rangkaian kunjungan Putra Mahkota Abu Dhabi/Wakil Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Uni Emirat Arab, His Royal Highness Sheikh Mohamed Bin Zayed Al Nahyan ke Indonesia.

Presiden Joko Widodo sendiri yang menjemput Sheikh Mohamed Bin Zayed Al Nahyan di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang. Sheikh Mohamed tiba menggunakan pesawat jenis Boeing 777 sekitar pukul 08.51 WIB dan langsung disambut Presiden di anak tangga terakhir pintu pesawat.

Presiden Jokowi yang ditemani Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan itu lalu bersalaman dan berbincang hangat dengan Sheikh Mohamed sebelum menaiki mobil limosin yang sama.

Sebelum tiba di Bogor, rombongan terbatas melewati kawasan bunderan Hotel Indonesia yang menjadi "ikon" ibu kota. Presiden ingin menunjukkan pesatnya pembangunan di Indonesia, terutama setelah fasilitas moda raya terpadu (MRT) tersedia di kawasan tersebut karena kunjungan kenegaraan Presiden Uni Emirat Arab (UEA) Khalifah bin Zayid al-Nahyan dilakukan pada 29 tahun yang lalu yaitu pada 1990.

Di Istana Kepresidenan Bogor, keduanya melakukan sesi foto bersama, penandatanganan buku tamu, penanaman pohon, tete-a-tete, pertemuan bilateral, dan penandatanganan kerja sama.

Sejumlah kerja sama bakal dibahas. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan memastikan tiga kerja sama sudah pasti akan diteken dalam pertemuan itu.

Ketiganya adalah kerja sama di proyek pembangunan fasilitas pengolahan minyak atau proyek revitalisasi kilang (Refinery Development Master Plan/RDMP) di Balikpapan, Kalimantan Timur. RDMP Balikpapan merupakan satu dari enam megaproyek kilang yang tengah dibangun PT Pertamina.

photo
Presiden Joko Widodo (kedua kanan) bersama Putra Mahkota Abu Dhabi/Wakil Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Uni Emirat Arab (UEA) Sheikh Mohamed Bin Zayed Al Nahyan (kedua kiri) menyaksikan pertukaran perjanjian kerjasama antara Dirut Pertamina Nicke Widyawati (kanan) dan Menteri Dalam Negeri UEA/CEO ADNOC Group Sultan bin Ahmed Aljaber (kiri) di Istana Bogor, Jawa Barat, Rabu (24/7/2019).

Kedua, kerja sama di pengembangan industri petrokimia dengan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. Ketiga, kerja sama dengan PT Pelabuhan Indonesia Maspion di Surabaya, Jawa Timur.

Total nilai investasi dari tiga kerja sama tersebut mencapai 9 miliar dolar AS atau setara Rp125,5 triliun.

Selain tiga proyek tadi, Indonesia juga akan menawarkan 21 daftar investasi lagi ke UEA. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan total nilai investasi itu mencapai 91 miliar dolar AS (setara Rp1.274 triliun).

Salah satu proyek yang bakal ditawarkan adalah pengembangan destinasi pariwisata prioritas Indonesia, seperti Sei Mangkei, Simalungun dan Danau Toba (Sumatra Utara) serta Mandalika (Nusa Tenggara Barat).

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, neraca dagang Indonesia dengan UEA sejak 2017 tercatat defisit. Nilai defisit hingga semester I/2019 sebesar 287 juta dolar AS. Defisit berasal dari nilai impor UEA ke Indonesia mencapai 882,5 juta dolar AS, sementara ekspor Indonesia hanya berkisar 594,4 juta dolar AS.

Ekspor tertinggi Indonesia ke UEA disokong nonmigas, sementara impor tertinggi UEA berasal dari sektor migas.

Indonesia memandang Dubai, salah satu kota metropolitan UEA, sebagai hub perdagangan dunia. Karena itu, Indonesia selama ini memanfaatkan peran Dubai untuk peningkatan ekspor produk pertanian dan buah-buahan.

Adapun ekspor komoditi yang digenjot Indonesia berupa suku cadang pesawat, produk dari kayu, batu berharga, makanan jadi, mesin kendaraan bermotor, dan seterusnya. Sementara impor UEA kebanyakan adalah mesin, minyak bumi, pelumas, alumunium, bahan kimia, dan biji plastik.

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA