Thursday, 21 Zulhijjah 1440 / 22 August 2019

Thursday, 21 Zulhijjah 1440 / 22 August 2019

Kemenristekdikti Kenalkan Metode Baru Pengukur Inovasi

Rabu 24 Jul 2019 13:02 WIB

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Gita Amanda

Inovasi. Ilustrasi

Inovasi. Ilustrasi

Foto: ipdigit.eu
Inovasi diharapkan tak hanya menjadi prototipe melainkan dapat diproduksi massal.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ditjen PI Kemenristekdikti) mengenalkan metode pengukuran dan penetapan Tingkat Kesiapan Inovasi (Katsinov). Melalui Katsinov, inovasi diharapkan tak hanya menjadi prototipe melainkan dapat mencapai tahap produksi massal yang berguna bagi masyarakat.

Baca Juga

Dirjen PI Kemenristekdikti, Jumain Appe mengatakan metode tingkat kesiapterapan teknologi (TKT) saja dianggap tidak cukup untuk mengukur inovasi. Sebab TKT tak sampai mengukur inovasi hingga bisa diterima pasar. Padahal kehadiran inovasi dibutuhkan dalam menjawab tantangan kehidupan.

"Perlu ada pengukuran tambahan. Antara lain pengukuran pasar, karena percuma teknologi selesai tapi begitu mau jual enggak laku atau enggak ada yang butuh," katanya pada wartawan dalam sosialisasi Permenristekdikti nomor 29 tahun 2019 tentang Katsinov, Selasa (23/7) lalu.

Diketahui, terdapat enam tingkat dan tujuh aspek kunci sebagai indikator pencapaian Katsinov. Enam tingkatan itu ialah konsep, komponen, penyelesaian, chasm, kompetisi, changeover. Kemudian tujuh aspek kuncinya yaitu teknologi, pasar, organisasi, kemitraan, resiko, manufaktur dan investasi.

Nantinya pengukuran dan penetapan Katsinov dilakukan setahun sekali lewat Katsinov-meter secara daring. Adapun indikator capaian Katsinov disusun dalam petunjuk teknis.

"Banyak yang katakan sudah produksi tapi kalau misal ada industri kebutuhan berapa?misal 1 ton. Ada proses manufaktur, kita harus lihat bahan bakunya, proses produksi, penyalurannya. Kita lakukan semua dalam pengukuran ini. Karena kalau enggak ada manajemennya bahaya," jelasnya.

Sementara itu, Direktur Sistem Inovasi Kemenristekdikti Ophirtus Sumule menyebut syarat inovasi diantaranya bisa dihilirkan, membawa manfaat bagi masyarakat dan ada kebaruan. Ia berharap Katsinov dapat menjadi rujukan inovasi bagi perusahaan, perguruan tinggi dan lembaga penelitian & pengembangan.

Selama ini, ia menyayangkan hasil inovasi yang malah tak bisa dinikmati publik secara luas. Alasannya karena tak komprehensifnya kajian inovasi tersebut sebelum menggunakan Katsinov.

"Kampus banyak prototipe, yang mana yang bisa masuk produksi? Karena banyak yang gagal di tengah jalan. Inilah fungsinya Katsinov," ucapnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA