Friday, 8 Safar 1442 / 25 September 2020

Friday, 8 Safar 1442 / 25 September 2020

Serangan Udara Rusia-Suriah, 50 Orang Meninggal di Idlib

Rabu 24 Jul 2019 07:23 WIB

Red: Ani Nursalikah

Serangan udara dilancarkan di sekitar Idlib Suriah

Serangan udara dilancarkan di sekitar Idlib Suriah

Foto: Syrian Civil Defense White Helmets via AP
Turki dan Rusia pada September lalu sepakat Idlib jadi zona penurunan ketegangan.

REPUBLIKA.CO.ID, IDLIB -- Lembaga pertahanan sipil Helm Putih mengatakan jumlah korban jiwa akibat serangan udara oleh Rusia dan pasukan Pemerintah Suriah di zona penurunan ketegangan di Provinsi Idlib naik jadi 50, Senin pagi (22/7).

Beberapa sumber lembaga pertahanan sipil kepada Kantor Berita Turki, Anadolu mengatakan jet Rusia menyerang satu pasar di Kota Maarat An-Numan di Idlib Utara, dan menewaskan 39 warga sipil, termasuk seorang relawan Helm Putih. Pesawat tempur Pemerintah Presiden Bashar al-Assad menyerang satu pasar di Saraqib di pinggi Idlib. Serangan pemerintah menewaskan sedikitnya tujuh orang dan melukai puluhan orang lagi.

Menurut seorang koresponden Anadolu, pesawat tempur pemerintah Suriah dan Rusia juga melancarkan serangan terhadap Kota Kecil Bidama dan Desa Tamenes serta Al-Kabina sehingga menewaskan empat warga sipil. Namun, Kementerian Pertahanan Rusia membantah pasukannya menyerang pasar. Kementerian mengatakan pesawat tempur Rusia tidak melakukan misi apa pun di daerah tersebut.

Korban jiwa Senin membuat seluruh jumlah korban jiwa jadi 67 dalam dua hari belakangan. Sebanyak 17 warga sipil tewas dalam serangan udara Rusia di zona penurunan ketegangan yang sama pada Ahad.

Turki dan Rusia pada September lalu sepakat mengubah Idlib jadi zona penurunan ketegangan, dan tindakan agresi dengan tegas dilarang di sana. Namun, pemerintah Suriah terus melanggar ketentuan gencatan senjata itu, dan sering melancarkan serangan di dalam zona penurunan ketegangan. Suriah baru saja mulai keluar dari konflik memporak-porandakan yang meletus pada 2011, ketika pemerintah Bashar al-Assad menindas demonstran dengan kekuatan yang tak pernah terjadi sebelumnya.

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA