Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

BNI Beri Kredit Rp 300 M kepada Dua Perusahaan Multifinance

Selasa 16 Jul 2019 22:52 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Gita Amanda

Ilustrasi suasana kantor penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bank BNI.

Ilustrasi suasana kantor penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bank BNI.

Foto: Republika/Tahta Aidilla
Kerja sama ini untuk mendorong peningkatan realisasi pembiayaan kendaraan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Artha Prima Finance dan PT Buana Sejahtera Multidana di bawah naungan Buana Sejahtera Group akan menandatangani Perjanjian Kredit dengan PT Bank Negara Indonesia (BNI) (Persero) Tbk sebesar Rp 300 miliar. Adapun kerja sama ini untuk mendorong peningkatan realisasi pembiayaan kendaraan.

Baca Juga

Presiden Direktur Buana Sejahtera Group Zaenal Abidin mengatakan saat ini sejumlah perusahaan pembiayaan (multifinance) masih mengandalkan perbankan untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan pada 2019. Proses pendanaan dari perbankan dianggap lebih mudah ketimbang menerbitkan surat utang (obligasi).

“Penandatanganan kerja sama dengan ini merupakan salah satu strategi Buana Sejahtera Group untuk mendorong peningkatan realisasi pembiayaan kendaraan yang ditargetkan, selain menunjukan masih tingginya tingkat kepercayaan perbankan terhadap perusahaan,” ujarnya dalam keterangan tulis yang diterima Republika.co.id, Selasa (16/7).

Menurutnya kerja sama dengan Bank BNI merupakan langkah strategi perusahaan tetap fokus pada pembiayaan kendaraan roda empat, baik passenger maupun komersial. Tentunya perusahaan terus menjaga kepercayaan mitra bisnisnya, khususnya kalangan perbankan nasional.

Sepanjang 2019, Buana Sejahtera Group melalui kedua perusahaan tersebut membidik penyaluran pembiayaan sebesar Rp 600 miliar. Angka itu naik tipis dari realisasi tahun lalu sebesar Rp 531,5 miliar.

Dari sisi laba bersih, Zaenal menambahkan, kedua perusahaan tersebut menargetkan bisa menyentuh Rp 33,6 miliar pada 2019, naik dari 2018 yang mencapai Rp 31,5 miliar. Kemudian, rasio kredit bermasalah (Non Performing Finance/NPF) juga akan ditekan hingga di bawah 2 persen.

"Kami menargetkan di angka 1,5 persen untuk NPF. Di perkirakan pertumbuhan industri pembiayaan pada tahun ini cenderung konservatif," ucapnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA