Tuesday, 19 Zulhijjah 1440 / 20 August 2019

Tuesday, 19 Zulhijjah 1440 / 20 August 2019

Riset Mahasiswa UIN Suka Juara Tiga LKTI Halal MUI

Selasa 23 Jul 2019 14:37 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Yusuf Assidiq

 Tiga mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang meraih juara tiga dalam LKTI Halal Patika Lembaga Pengkajian, Pangan, Obat-Obatan dan Kosmetika (LPPOM) Majelis Ulama Indonesia (MUI) DIY.

Tiga mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang meraih juara tiga dalam LKTI Halal Patika Lembaga Pengkajian, Pangan, Obat-Obatan dan Kosmetika (LPPOM) Majelis Ulama Indonesia (MUI) DIY.

Foto: Dokumen.
Penelitian terkait deteksi kuah terkontaminasi daging babi.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Karya riset tiga mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta meraih juara tiga LKTI Halal Patika Lembaga Pengkajian, Pangan, Obat-Obatan dan Kosmetika (LPPOM) Majelis Ulama Indonesia (MUI) DIY. Mereka berasal dari Prodi Fisika Fakultas Sains dan Teknologi.

Ada Atika Apriani, Aji Rahmadi, dan Adi Ahmad Dimisa. Kali ini, mereka sukses menyisihkan ratusan kelompok lain yang diadakan pada 5 Maret-17 Juli 2019 di Graha Sarina Vidi, Sleman, DIY.

Atika mengatakan, raihan itu dicapai setelah jadi satu dari enam kelompok terpilih untuk presentasi. Mereka naik podium bersama juara satu Universitas Gunadarma dan juara dua STIKES Kediri.

Hadiah diserahkan saat Halal Bisnis Gathering. Mereka membawa karya berjudul Deteksi Kuah Terkontaminasi Daging Babi Menggunakan High Power UV-LED Fluorescence Spectroscopy System.

Penelitian terkait deteksi kuah terkontaminasi daging babi memakai fluorescence spectroscopy system. Itu jadi metode uji alternatif dalam membedakan kuah daging babi dan sapi.

"Penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai metode uji alternatif dalam mendeteksi kuah yang terkontaminasi daging babi," kata Atika.

Ada dua tahap metode yang digunakan. Pertama, membuat fluorescence spectroscopy system, dan kedua, melakukan pengujian dengan menggunakan sampel kuah daging sapi dan kuah daging babi.

Pengujian dilakukan lima kali demi mendapatkan nilai konsistensi alat. Penggunaan parameter didasari tiap sampel akan alami tingkat fluoeresensi yang berbeda jika dikenai sinar ultraviolet.

Dari sini didapat sistem spektroskopi fluoresensi dan telah diuji menggunakan sampel tersebut. Hasilnya, spektrum kuah daging sapi berada di Bin 39, sedangkan kuah daging babi di Bin 37.

Hasil itu memiliki perbedaan yang sangat kecil, sehingga kuah daging sapi dan kuah daging babi tidak dapat dibedakan secara kasat mata. Artinya, memerlukan alat untuk membedakannya.

Dari pengujian ripitabilitas didapatkan nilai sebesar 100 persen. Maka itu, dapat dikatakan sistem yang telah dibuat sangat layak digunakan sebagai metode uji alternatif karena konsistensinya.

Penelitian ini memberikan informasi ilmiah pengembangan sistem spektroskopi fluoresensi yang relatif murah dan akurat. Utamanya, untuk membangkitkan fluoresensi kuah olahan daging babi dan sapi.

"Di samping itu, memberikan metode alternatif dalam upaya-upaya menjamin kehalalan suatu makanan berdasarkan fenomena fluorensi pada olahan daging babi dan sapi," ujar Atika.

Ketua Prodi Fisika UIN Suka, Thaqibul Fikri Niyartama berharap, ini bisa menular ke banyak mahasiswa lain. Ia menekankan, Prodi Fisika mendukung tiap mahasiswa yang mempunyai ide kreatif.

"Dukungan tersebut berupa penyediaan sarana laboratorium yang dapat diakses mahasiswa, serta pembimbingan dan pendampingan dari dosen-dosen," kata Thaqibul.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA