Tuesday, 1 Rajab 1441 / 25 February 2020

Tuesday, 1 Rajab 1441 / 25 February 2020

Danone AQUA Atasi Masalah Sampah Plastik di Labuan Bajo

Selasa 23 Jul 2019 00:37 WIB

Red: Bilal Ramadhan

Salah satu cara mengatasi sampah di Labuan Bajo dengan model ekonomi sirkular dimana sampah plastik akan diolah menjadi bahan baku.

Salah satu cara mengatasi sampah di Labuan Bajo dengan model ekonomi sirkular dimana sampah plastik akan diolah menjadi bahan baku.

Foto: Istimewa
Model ekonomi sirkular dimana sampah plastik akan diolah menjadi bahan baku.

REPUBLIKA.CO.ID, LABUAN BAJO -- Salah satu upaya mengatasi permasalahan sampah plastik adalah melalui dukungan serta pengembangan ekonomi daur ulang atau ekonomi sirkular. Danone-Aqua merupakan salah satu perusahaan yang percaya akan pentingnya ekonomi daur ulang melalui kerjasama multipihak.

Setelah sukses mengembangkan ekonomi daur ulang di Jabotabek dan Bali, Danone-Aqua bersama pemangku kepentingan lainnya berupaya mengembangkan ekonomi sirkular untuk mengatasi sampah plastik di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.

Menandai dimulainya dukungan terhadap pengembangan ekonomi daur ulang plastik di Labuan Bajo, baru baru ini dilakukan pengiriman perdana botol plastik bekas sebanyak 10 ton, yang terkumpul melalui Koperasi Serba Usaha (KSU) Komodo, Pusat Daur Ulang (PDU) Batu Cermin dan Sektor Informal di Labuan Bajo.

Botol bekas tersebut akan dikirimkan ke Recycling Business Unit (RBU) mitra Danone-Aqua di Bali. Selanjutnya dengan menggunakan teknologi tinggi di proses menjadi bahan baku botol baru untuk produk Aqua Life yang menggunakan kemasan berbahan 100 persen plastik daur ulang.

Ke depannya, kemasan plastik yang terkumpul juga akan dikirimkan langsung ke Pabrik Daur Ulang Veolia di Pasuruan Jawa Timur yang akan mulai beroperasi di awal tahun 2020.

Inisiatif mendorong ekonomi sirkular dalam bisnis daur ulang plastik ini merupakan upaya Danone-Aqua untuk memberikan solusi nyata bagi permasalahan lingkungan khususnya mencegah sampah plastik masuk lautan di Labuan Bajo dan sekitarnya, serta mendukung program pemerintah Indonesia untuk mengurangi 70 persen sampah plastik di lautan pada tahun 2025.

Danone-Aqua juga berkomitmen untuk menjadi pengguna (off taker) hasil daur ulang botol plastik yang berhasil di kumpulkan sebagai bahan baku botol baru. Dengan komitmen ini program pengumpulan botol plastik yang telah di mulai sejak beberapa tahun lalu akan terjamin keberlanjutannya.
 
Terkait inisiatif ini, Dr. Ir. Suseno Sukoyono, M.M., Staf Ahli Menteri Bidang Kemasyarakatan dan Hubungan Antar Lembaga, Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia mengatakan, Kementerian Kelautan dan Perikanan mendukung penguatan KSU sebagai salah satu bentuk penanggulangan sampah pesisir.

"Kami mengajak seluruh pihak untuk mendukung berkembangnya ekonomi sirkular di Labuan Bajo agar lingkungan di Labuan Bajo dapat terjaga dan semakin mengembangkan potensi pariwisatanya," kata Suseno.
 
Pada kesempatan yang sama, Sustainable Development Director Danone Indonesia, Karyanto Wibowo mengatakan, inisiatif ini merupakan aksi nyata gerakan #BijakBerplastik, memperkuat komitmen kami untuk Indonesia yang lebih bersih dan mendukung tujuan pemerintah Indonesia untuk mengurangi sampah di lautan.

"Kami berfokus kepada tiga aspek inti yaitu: pengembangan infrastruktur pengumpulan, pendidikan daur ulang untuk konsumen dan inovasi kemasan. Tiga aspek inti ini bertujuan untuk membantu mencapai ambisi kami pada tahun 2025 untuk mengumpulkan lebih banyak plastik daripada yang kami gunakan," kata Karyanto dalam rilisnya, Senin (22/7).

Sementara itu, dalam kesempatan terpisah, Arif Mujahidin, Corporate Communications Director Danone Indonesia menambahkan, model yang saat ini dibangun di Labuan Bajo merupakan contoh penerapan konsep ekonomi sirkular, sebagai salah satu solusi dalam pengelolaan sampah plastik bisa dilakukan. Model ekonomi sirkular dimana sampah plastik akan diolah menjadi bahan baku sehingga memberikan dampak positif baik aspek lingkungan maupun ekonomi.

“Meskipun demikian, terdapat beberapa tantangan dalam membangun model ekonomi sirkular di Labuan Bajo antara lain, mahalnya biaya pengangkutan ke pabrik daur ulang yang berlokasi di Pulau Jawa, kesadaran masyarakat untuk membuang sampah di tempatnya dan juga infrastruktur yang kurang memadai,” kata Arif menjelaskan. 

Komitmen menerapkan ekonomi sirkular dilakukan melalui  menjadikan kemasan plastiknya sebagai sumber daya atau bahan baku yang dapat digunakan selama mungkin. Danone-Aqua telah memelopori pengumpulan dan program daur ulang kemasannya dengan mengembangkan Program Aqua Peduli pada 1993 sebagai langkah awal menuju model pengemasan yang lebih sirkular.

Saat ini, Danone-Aqua dapat mengumpulkan 12 ribu ton plastik setiap tahunnya melalui 6 Recycling Business Unit di berbagai lokasi di Indonesia. Hal ini membuat Danone-Aqua sebagai satu satunya perusahaan air minum dalam Kemasan yang menggunakan bahan daur ulang di kemasan produknya.

Labuan Bajo merupakan wilayah yang strategis, pintu masuk pulau Komodo yang menjadi warisan budaya UNESCO. Pemerintah Indonesia telah menetapkan Labuan Bajo sebagai salah satu dari program 10 Bali baru.

Namun, saat ini Labuan Bajo masih menghadapi tantangan yang membutuhkan perhatian kita semua yaitu bagaimana mengelola sampah khususnya sampah plastik. Untuk itu pemerintah dengan dukungan berbagai pihak melakukan pembenahan diberbagai aspek termasuk pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Berdasarkan data WWF dan kajian tim penyusun rencana pengelolaan sampah, rata-rata timbulan sampah di kota Labuan Bajo mencapai 112,4 m3 per hari atau setara dengan 12,8 ton per hari.

Berbagai pihak baik Pemerintah Pusat, Daerah serta Lembaga Swadaya Masyarakat telah bekerja keras untuk mengatasi permasalahan sampah plastik. Keterlibatan  Danone-Aqua di Labuan Bajo yang telah dimulai sejak tahun 2017 bertujuan untuk memperkuat ekosistem daur ulang sampah plastik dengan memfasilitasi peningkatan pengumpulan sampah botol plastik yang dilakukan oleh Kooerasi Serba Usaha (KSU) Komodo, Pusat Daur Ulanh Batu Cermin serta pengepul dari sektor informal.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA