Monday, 15 Safar 1441 / 14 October 2019

Monday, 15 Safar 1441 / 14 October 2019

Tomang: Antara Madura, Belanda, dan Tungku Besar

Selasa 23 Jul 2019 07:03 WIB

Red: Muhammad Subarkah

 Petugas membersihkan tanaman enceng gondok yang menutupi permukaan Waduk Tomang, Jakarta Barat, Senin (30/9).  (Republika/Rakhmawaty La'lang)

Petugas membersihkan tanaman enceng gondok yang menutupi permukaan Waduk Tomang, Jakarta Barat, Senin (30/9). (Republika/Rakhmawaty La'lang)

Tomang adalah kata dalam Bahasa Madura yang berarti tungku.

Oleh: Teguh Setiawan, Jurnalis Senior

Tidak ada kata ‘tomang’ dalam Bahasa Indonesia. Tomang adalah kata dalam Bahasa Madura yang berarti tungku. Dalam kamus Bahasa Belanda tidak ada ada tomang, yang ada adalah ‘t omang -- artinya sang nenek. Pertanyaannya, kata mana yang dekat dengan sejarah Kelurahan Tomang.

Pada paruh kedua abad ke-18, seperti dituturkan John Joseph Stockdale dalam Sketches, Civil and Military, of the Island of Java and Its Immediate Dependencies, 75 persen serdadu VOC adalah orang Madura asal Sumenep. Panggilan serdadu Madura itu adalah Opas. Mereka tidak ditempatkan di gerbang kota, tapi di kantor petinggi VOC.

Orang-orang Madura itu, tulis Stockdale, cerdas dan berani. Mereka bukan hanya prajurit tapi pelayan. Mereka melayani tamu-tamu kulit putih yang datang ke Kastil Batavia. Mereka adalah serdadu kepercayaan para petinggi VOC.

Di luar Kastil Batavia, serdadu Madura ditempatkan di benteng-benteng yang menyebar di sekujur Ommelanden; Fort Angke, Vijhoek, Rijswijk, Noordwijk, Jacatra, dan Ancol. Jumlah mereka diperkirakan mencapai 3.300, jauh di atas serdadu kulit putih yang hanya 1.240 orang.

Tidak ada gelar kapten untuk pemimpin serdadu Madura, karena seluruhnya berada di bawah Pangeran Madura. Stockdale menulis seluruh serdadu Madura ditempatkan di lingkungan basah, rawa-rawa yang nyaris tak layak huni. Menariknya, orang Madura bisa bertahan.

Kawasan Tomang yang kita kenal saat ini adalah salah satu ekosistem lahan basah di Ommelanden. Antara Tomang dan Kali Grogol, lokasi Fort Vijhoek, tidak terlalu jauh. Di sinilah prajurit-prajurit Madura bermukim jika sedang tak bertugas menjaga Fort Vijhoek.

Mereka membawa tradisi kampung halaman. Salah satunya membuat tungku gerabah untuk masak sehari hari. Tungku besar untuk memasak nasi diletakkan di luar rumah. Mereka menyebutnya Tomang.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA