Tuesday, 19 Zulhijjah 1440 / 20 August 2019

Tuesday, 19 Zulhijjah 1440 / 20 August 2019

Ini Tiga Tantangan Pembangunan SDM Menurut Menteri PPN

Selasa 23 Jul 2019 06:20 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Friska Yolanda

Wakil Presiden Jusuf Kalla (tengah) didampingi Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro (kanan) dan Duta Besar Australia untuk Indonesia Gary Quinlan (kiri) berfoto bersama seusai membuka Indonesia Development Forum (IDF) 2019 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Senin (22/7/2019).

Wakil Presiden Jusuf Kalla (tengah) didampingi Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro (kanan) dan Duta Besar Australia untuk Indonesia Gary Quinlan (kiri) berfoto bersama seusai membuka Indonesia Development Forum (IDF) 2019 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Senin (22/7/2019).

Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
Lebih dari separuh pekerja Indonesia masih di sektor informal.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN)/ Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menyebutkan, setidaknya ada tiga tantangan utama untuk menjaga akselerasi laju laju pertumbuhan dan pemerataan ekonomi. Khususnya, dalam hal membangun sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. 

Tantangan pertama, daya saing SDM Indonesia yang masih tertinggal apabila dibanding dengan negara ASEAN lainnya. Dalam catatan Bappenas, SDM Indonesia masih berada pada peringkat 65 dari 130 negara dengan skor 62,19, tertinggal dibandingkan dengan Malaysia di peringkat 33, Thailand di peringkat 40, Filipina  di peringkat 50. "Bahkan Vietnam di peringkat 64," ujar Bambang dalam acara Indonesia Development Forum (IDF) 2019 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Senin (22/7). 

Baca Juga

Kedua, Bambang menambahkan, lebih dari separuh pekerja Indonesia masih berada di sektor informal dengan produktivitas yang rendah. Sektor manufaktur belum berhasil menjadi penggerak utama dalam penciptaan lapangan kerja. 

Tantangan ketiga, masih rendahnya akses kelompok rentan seperti perempuan, penyandang disabilitas, serta penduduk daerah tertinggal terhadap kesempatan kerja yang berkualitas. "Mayoritas mereka masih bekerja di sektor informal karena sulit mengakses lapangan kerja formal dan lingkungan kerja yang inklusif," tutur Bambang.

Dinamika perubahan demografi dan perkembangan teknologi yang cepat juga memberi peluang sekaligus tantangan bagi Indonesia untuk meningkatkan daya saing. Merespons berbagai tantangan di atas, upaya pembangunan SDM dilakukan Pemerintah Indonesia secara holistik dan terintegrasi. 

Bambang menegaskan, penyediaan pelayanan dasar dan perlindungan sosial, pemerataan layanan kesehatan dan pendidikan berkualitas, serta pengembangan IPTEK dan inovasi menjadi prasyarat keberhasilan untuk mewujudkan SDM yang andal, adaptif, kreatif, dan inovatif. Membangun kesiapan SDM juga perlu diiringi dengan upaya penguatan sektor-sektor produktif. 

"Supaya bisa memberikan kesempatan kerja seluasnya kepada masyarakat sehingga pengangguran, kemiskinan, dan ketimpangan dapat diatasi," katanya. 

Selama periode 2015-2019, Bappenas mencatat, pertumbuhan ekonomi telah mampu menciptakan 11,2 juta kesempatan kerja baru. Jumlah tersebut melampaui target penciptaan 10 juta kesempatan kerja dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berhasil ditekan menjadi 5,01 persen pada Februari 2019, terendah sejak krisis ekonomi 1997 dan 1998.

Bambang menuturkan, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) juga terus mengalami kenaikan dengan rata-rata peningkatan mencapai 0,89 persen dan telah termasuk dalam kategori tinggi. "Tentunya, keberhasilan ini harus dijaga agar akselerasi laju pertumbuhan dan pemerataan pembangunan ekonomi dapat dicapai," ucapnya. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA