Jumat, 22 Zulhijjah 1440 / 23 Agustus 2019

Jumat, 22 Zulhijjah 1440 / 23 Agustus 2019

30 Persen SDN di Salawu dalam Kondisi Rusak

Senin 22 Jul 2019 16:42 WIB

Rep: Bayu Adji P/ Red: Andi Nur Aminah

Bagunan sekolah yang rusak (ilustrasi)

Bagunan sekolah yang rusak (ilustrasi)

Foto: Tahta Aidilla/Republika
Dalam setahun Kecamatan Salawu hanya dapat jatah perbaikan tak lebih dari dua kelas.

REPUBLIKA.CO.ID,TASIKMALAYA -- Sekitar 30 persen dari total 34 sekolah dasar negeri (SDN) di Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, dalam keadaan rusak. Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pendidikan Kecamatan Salawu Dudung mengatakan, rata-rata SDN di wilayahnya kekurangan ruang kelas.

Menurut dia, pihaknya sudah mengusulkan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya untuk ruang kelas baru (RKB) atau rehabilitasi ruang kelas yang ada. Namun, dalam setahun Kecamatan Salawu hanya mendapatkan jatah perbaikan tak lebih dari dua kelas.

Baca Juga

"Itu kan pertimbangan dari dinas. Mungkin ada yang lebih berat rusaknya daripada kita. Kita tidak tahu," kata dia, Senin (22/7).

Menurut dia, UPTD tak bisa melakukan intervensi apapun. Sementara dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari pemerintah pusat tak bisa digunakan untuk membuat ruang kelas baru atau renovasi kelas.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya Dadan Wardana mengatakan, terdapat 1.086 SDN di wilayahnya. Sementara, anggaran yang bersumber dari APBD hanya sekitar Rp 300 juta per tahun. Karena itu, untuk berbaikan diprioritaskan untuk sekolah yang benar-benar membutuhkan terlebih dahulu.

"Memang Rp 300 juta untuk 1.086 SDN itu tidak ideal. Tapi kita juga harus bijak berpikir karena anggaran di daerah terbatas. Kita sadar akan hal itu," kata dia.

Ia menambahkan, perbaikan sekolah tak bisa sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah daerah. Lebih dari itu, pemerintah pusat juga menganggarkan melalui DAK yang langsung diberikan kepada komite sekolah. Ia menambahkan, masyarakat juga perlu berpartisipasi untuk membantu perbaikan sekolah, juga dunia usaha.

Dadan mengatakan, pihaknya juga mulai menyasar dunia usaha untuk memberikan bantuan melalui corporate social resposibility (CSR). Dengan begitu, pembenahan sekolah tak selalu harus mengandalkan pemerintah.

Sebelumnya, Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya, Opan Sopian menyebutkan, hampir 50 persen dari 1.086 sekolah dasar negeri (SDN) di Kabupaten Tasikmalaya dalam kondisi rusak. Berdasarkan data Dinas Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya, sekitar 1.730 ruang kelas 516 SDN di Kabupaten Tasikmalaya dalam keadaan rusak sedang hingga rusak berat.

Ia mengatakan, pihak sekolah telah mengajukan usulan rencana kegiatan (URK) melalui Data Pokok Pendidikan (Dapodik) untuk disampaikan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Namun, ia pesimistis usulan itu akan disetujui seluruhnya. "Tak akan semua terpenuhi. Karena se-Indonesia banyak. Tentu diverifikasi lagi dan pasti hanya prioritas yang dapat," kata dia.

Sementara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tasikmalaya, pada 2019 hanya menganggarkan pembuatan satu ruang kelas baru dan rehabilitasi satu ruang kelas yang rusak sedang. Ia mengakui, masih banyak sekolah di wilayahnya yang masih kekurangan kelas.

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA