Selasa, 19 Zulhijjah 1440 / 20 Agustus 2019

Selasa, 19 Zulhijjah 1440 / 20 Agustus 2019

120 Hektare Lahan di Kabupaten Bandung Alami Kekeringan

Senin 22 Jul 2019 15:50 WIB

Rep: Muhammad Fauzi Ridwan/ Red: Gita Amanda

Cabai rawit yang sudah siap panen mengering akibat kekeringan di sebuah ladang cabai rawit, di Desa Mekarwangi, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (11/7).

Cabai rawit yang sudah siap panen mengering akibat kekeringan di sebuah ladang cabai rawit, di Desa Mekarwangi, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (11/7).

Foto: Republika/Edi Yusuf
Sebanyak empat hektare dari 120 hektare lahan mengalami kekeringan berat.

REPUBLIKA.CO.ID, SOREANG -- Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Bandung mengungkapkan musim kemarau berdampak kepada 120 hektare lahan pertanian mengalami kekeringan. Sebanyak 89 hektare mengalami kekeringan ringan, 27 hektare kekeringan sedang dan 4 hektare kekeringan berat.

Baca Juga

"Kekeringan berat 4 hektare itu ada di Ciparay dan Baleendah. Tujuhpuluh hektare bisa tertangani dengan melakukan pompanisasi," ujar Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, Tisna Umaran kepada wartawan di Soreang, Senin (22/7).

Disamping itu, ia mengungkapkan sebanyak 990 hektare lahan pertanian berusia 1 hari yang tersebar di 31 kecamatan terancam mengalami kekeringan. Namun begitu masih terdapat petani yang tetap menanam padi meski musim kemarau.

"Di Rancaekek sekarang baru nanam karena melihat air dari pompanisasi tersedia. Tapi kalau Agustus sumber air kering dan air hujan belum ada bisa terkena kekeringan. Petani bilang keberuntungan," katanya.

Menurutnya, total lahan pertanian di Kabupaten Bandung yang ada mencapai 7.937 hektare. Sedangkan lahan perkebunan yang mengalami kekeringan relatif sedikit. Sebab di lahan tersebut pemilik pasti tidak akan berspekulasi ketika tidak punya ceboran air.

Terkait dengan harga komoditas cabai yang tinggi, dirinya mengatakan jika harga menjadi mahal disebabkan musim kemarau dan luas area pertanian yang berkurang. Selain itu, mayoritas pertanian tidak optimal mendapatkan air sehingga kualitas berkurang.

"Sayuran hampir semua naik harga. Karena kemarau dan luas area berkurang," katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA