Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Sosok Arswendo Atmowiloto di mata Salman Aristo

Sabtu 20 Jul 2019 04:22 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Esthi Maharani

salman aristo

salman aristo

Foto: istimewa
karya Senopati Pamungkas dibaca berkali-kali oleh Salman.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Sutradara Salman Aristo turut berduka mendengar kabar sastrawan Arswendo Atmowiloto meninggal dunia pada Jumat (19/7). Ia masih ingat betul terakhir kali bertemu dengan mendiang Arswendo.

“Terakhir menengok Mas Wendo pada 16 Juni di rumahnya sama Yandy Laurens, sama istri saya juga (Ginatri S. Noer)” ujar Salman saat dihubungi Republika, Jumat (19/7).

Waktu itu mendiang Arswendo masih bercanda, meskipun kondisi fisiknya sedang menurun karena sakit kanker prostat. Arswendo, tutur Salman, memang mudah lelah.

Di mata Salman, Arswendo merupakan sosok yang menginspirasinya. Pria kelahiran 1976 ini membaca semua karya-karya mendiang, bahkan karya Senopati Pamungkas dibaca berkali-kali oleh Salman. Dapat dibilang sosok Arswendo berpengaruh besar terhadap Salman.

“Bagaimana dia bisa membuat (tulisan) begitu holistik, menulis tapi tidak pernah kehilangan kualitas untuk tulisan yang dia buat,” katanya.

Sastrawan dan wartawan senior Arswendo Atmowiloto. Arswendo meninggal dunia pada Jumat (19/7) di kediamannya di Kompleks Kompas, Petukangan, Jakarta. Semasa hidup ia dikenal sebagai sastrawan dan wartawan di berbagai majalah dan koran. Nama Arswendo makin dikenal luas setelah mendirikan PH dan memproduksi sinetron populer Keluarga Cemara hingga Satu Kakak Tujuh Keponakan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA