Senin, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 Januari 2020

Senin, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 Januari 2020

Mentan Bantah Biaya Produksi Beras Mahal

Jumat 19 Jul 2019 09:05 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Friska Yolanda

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meluncurkan program pemberian bibit unggul sebesar 500 juta selama lima tahun atau Bun500, di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (18/7).

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meluncurkan program pemberian bibit unggul sebesar 500 juta selama lima tahun atau Bun500, di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (18/7).

Foto: Republika/Imas Damayanti
Dibandingkan Jepang, Korea dan Taiwan harga beras nasional masih lebih kompetitif.

REPUBLIKA.CO.ID, PALANGKA RAYA -- Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman membantah adanya biaya produksi beras yang mahal. Menurut dia, biaya produksi beras domestik cukup kompetitif jika dibandingkan dengan negara produsen beras di kawasan Asia Tenggara. 

Baca Juga

Mahalnya biaya produksi beras domestik dilontarkan Perum Bulog beberapa waktu lalu ke publik. Sebab, karena harga jual yang tidak kompetitif dalam penjajakan ekspor beras cadangan pemerintah (CBP), penjajakan ekspor dengan negara-negara peminat beras Indonesia pun gagal. Terkait hal ini, Amran membantah keras. 

“Harga beras kita kompetitif, biaya produksi kita cukup murah. Bersaing itu dengan Vietnam dan lainnya,” kata Amran saat ditemui Republika, di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (18/7) malam. 

Dia membandingkan, harga beras Indonesia dengan Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan masih jauh lebih kompetitif beras Indonesia. Sebagai perbandingan, kata Amran, rata-rata harga beras di tiga negara tersebut mencapai Rp 30 ribu per kilogram (kg). Sedangkan harga beras Indonesia jika mengacu pada harga pembelian Bulog sebesar Rp 8.030.

Menurut Amran, harga pembelian beras di petani dipastikan bisa di bawah Rp 7.000 per kg sebab ada cost di rantai niaga yang diisi middleman seperti pengusaha dan juga perusahaan penggilingan padi. Dengan harga beli di petani tersebut, dia memastikan terdapat estimasi keuntungan yang sudah diperoleh petani. Estimasi itu melingkupi di dalamnya biaya produksi yang dinilai murah. 

Murahnya biaya produksi beras, kata Amran, didasarkan adanya pembangunan sejumlah fasilitas sarana pertanian sejak 2015. Terutama terkait ketersediaan air seperti embung, pompanisasi, irigasi, hingga penggalian sumur dangkal dan dalam di sekitar lahan tanam. 

“Jadi kalau ada yang bilang biaya produksi (beras) kita mahal, tolong dong sekali-kali lihat harga beras di negara lain,” kata Amran. 

Sebagaimana dikabarkan sebelumnya, Kepala Bulog Budi Waseso (Buwas) menyatakan penjajakan ekspor Indonesia gagal sebab kalah saing di sisi harga jika dibandingkan dengan negara-negara produsen beras seperti Thailand dan Vietnam. Buwas menyebut, harga beras yang ditawarkan negara-negara tersebut jauh lebih murah jika dibandingkan tawaran harga ekspor beras Indonesia. Diketahui, beras Vietnam dan Thailand dibanderol dalam pasar ekspor mereka sebesar Rp 6.200 per kg. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA