Friday, 19 Zulqaidah 1441 / 10 July 2020

Friday, 19 Zulqaidah 1441 / 10 July 2020

Menengok Akar Konflik Lahan Berdarah di Mesuji

Jumat 19 Jul 2019 05:00 WIB

Rep: Mursalin Yasland/ Red: Teguh Firmansyah

MESUJI, 02/10 - MASALAH REGISTER 45. Sejumlah rumah sementara didirikan para perambah hutan di Register 45, Mesuji, Lampung, Selasa (2/10).

Pengungsi Register 45 Mesuji mengambil air sejauh satu kilometer dari tempat tinggal sementara mereka.

Foto: ANTARA FOTO
Konflik horizontal terjadi seiring pendatang yang masuk ke lahan bermasalah tersebut.

Sugiyanto mengatakan, bila kondisi tersebut terjadi pembiaran dari pemerintah dan aparat keamanan, konflik horizontal akan terus terjadi, dan pada akhirnya akan menimbulkan korban lagi. 

Kinerja pemerintah pusat terkesan tak mampu menyelesaikan kasus di Register 45 Mesuji. Menurut Khamami, saat menjabat bupati Mesuji, urusan kasus sengketa lahan di Register 45 sudah ada tim bentukan Kementrian Kehutanan (Kemenhut). Pemkab Mesuji dan Pemprov Lampung hanya fasilitator.

Tim telah dibentuk, namun penyelesaian konflik warga perambah berjalan lambat dan tak berujung. Sedangkan perambah terus masuk kawasan menduduki lahan. Petani Register 45 terus melakukan aksi.

Petani yang tergabung dalam Persatuan Petani Moro Moro Way Serdang mendesak pemerintah pusat melaksanakan rekomendasi Tim Gabungan Pencari Fakta Kasus Mesuji yakni menuntut hak sipil dan politiknya selaku warga negara.

Upaya penertiban perambah lahan menjadi gagal, lantaran anggaran penertiban dari Kementerian Kehutanan sebesar Rp 7,5 miliar pada 2013 lalu tak kunjung turun. Warga yang masuk kawasan tak tercegah lagi.

Saat ini, kawasan Register 45 sudah separuh lebih dikuasai perambah. Data Kesbangpol Mesuji tahun 2013 menyebutkan, jumlah perambah di Register 45 sudah mencapai 9.846 jiwa. Terdiri dari Suka Agung 700 jiwa, Tugu Roda 1.225, Margajaya 751, wilayah Polhut 316, Tunggal Jaya 915, Simpang D 316, Alba 16A 1.402, depan Kampung Simpang Pematang 97, Karyajaya 2.136 jiwa, Karyatani 1.314 jiwa, Alba 2 318 jiwa, dan wilayah Pelitajaya ada 275 jiwa.

 Penertiban Kandas

Kemenhut menyerahkan penyelesaian perambah lahan Register 45 tersebut kepada daerah. Hal tersebut merujuk Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 tentang Pelimpahan Wewenang. Namun, Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 93 tahun 1997 menyebutkan, penetapan kawasan hutan produksi Register 45 seluas 43.100 ha kepada Pemegang Hak Pengusahaan Kawasan Hutan Industri (HPHTI) yang dipegang PT Silva Inhutani Lampung.

Dalam keputusan Menhut tersebut, Kemenhut memiliki tanggung jawab untuk melakukan pengawasan setiap lima tahun sekali terhadap pemegang HPHTI. Konsekuensinya Kemenhut mengawasi pemegang HPHTI (PT Silva Inhutani) terhadap kewajibannya. Misalnya, melaksanakan rencana kerja lima tahun, menjaga perambah, dan pengucuran keuntungan lima persen kepada masyarakat sekitar.

Namun masalah perambah tak juga beres.  Oknum penjual tanah atau calon lahan hutan negara bebas bergentayangan di lokasi. Mereka menjual lahan ilegal dan meminta sumbangan kepada perambah dengan kisaran Rp 100 ribu per ha.

Calo tanah tersebut meraup sumbangan perambah dengan dalih akan membebaskan semua lahan hutan Register 45 dari kepemilikan perusahaan pengelola hutan kepada warga.

Berdasarkan keterangan warga, Hasbi, calo tersebut meminta sumbangan kepada perambah Rp 100 ribu per ha. Uang tersebut modal memperjuangkan membebaskan lahan register. Hasbi berharap oknum calo tanah tersebut ditangkap petugas, agar tidak meresahkan warga setempat.

“Sampai sekarang praktik jual beli tanah register masih terus berlangsung. Kami harap polisi menangkap oknumnya,” kata Hasbi (42 tahun).

Menurut dia, warga yang telah mendiami kawasan hutan Register 45 sudah membuka diri dengan meminta Pemkab Mesuji menggagas program kemitraan tumpang sari untuk warga yang bermukim di hutan negara tersebut.

Pola kemitraan dapat tercipta saling menguntungkan antara perusahaan pemegang HPHTI dan masyarakat. Dengan begitu, praktek-praktek perambahan hutan negara bisa teratasi sendirinya.
 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA