Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Amil dan Budaya Literasi

Kamis 18 Jul 2019 14:51 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Nana Sudiana, Sekjend FOZ & Direksi IZI

Foto:
Literasi rendah bisa berkontribusi pada rendahnya produktivitas bangsa

Mengabadikan Perubahan Lewat Tulisan

Dunia zakat sangat dinamis, terus berubah dan bergerak dalam interval waktu yang kadang tak bisa ditebak. Dalam perjalanan panjang lebih dari 18 tahun ada di gerakan zakat, saya merasa situasinya seakan terus berubah dan penuh dinamika. Dan di tengah situasi tadi, menjadi menarik bila kita bisa mengabadikan bagian demi bagian perubahan yang terjadi dalam berbagai media yang ada.

Salah satu media tadi ternyata bentuknya adalah tulisan. Walau terlihat sederhana, ternyata tulisan bisa menangkap setiap moment dan mengabadikan perubahan demi perubahan yang terjadi.

Perubahan dunia zakat ini benar-benar luar biasa. Ada pola yang berulang, dan ada pula yang zig-zag dan mengandung ketidakpastian. Situasinya berubah dan terus berubah. Padahal, perubahan yang ada itu tidak seluruhnya bisa dikendalikan sesuai dengan kemauan kita, para amil zakat.

Kita semua tentu berharap ingin mengawetkan, memanjangkan, dan bila perlu mengabadikan gagasan dan pemikiran yang dimiliki. Caranya tentu saja dengan terus belajar mengeksplorasi ide atau gagasan, yang dari langkah ini insya Allah kebesaran lembaga zakat tinggal menanti tiba waktunya.

Lewat menulis, para amil menebarkan gagasan dan ide-ide pada masyarakat luas. Dengan menulis, para amil turut andil mengubah dunia menjadi lebih baik. Banyak ataukah sedikit yang membaca tulisan kita, itu masalah berbeda. Dikomentari banyak atau tidak tulisan kita, itu juga bukan urusan penting. Dan dipuji atau tidak tulisan kita, itu juga bukan tujuan utama. Yang esensial justru kita terus belajar dari lingkungan sekitar.

Sebuah tulisan hakikatnya adalah perwakilan gagasan. Dalam konteks dunia zakat berarti hal ini adalah gagasan para aktor yang terlibat atau berkecimpung di dunia perzakatan. Literasi zakat yang dibuat sendiri para amil akan selalu menjadi hal menarik untuk dibaca para amil lainnya.

Tulisan seorang amil menggambarkan bagaimana seseorang amil zakat berpikir terhadap sesuatu. Semakin sistematis menulis, maka semakin mampu seorang amil mengendalikan banyak informasi dan gagasan dalam logika yang runtut dan beraturan.

Sebaliknya, semakin kacau logika yang tertuang dalam sebuah tulisan, maka bisa dipastikan amil zakat itu mengalami disorientasi gagasan. Ia kesulitan menyerap informasi dan fakta yang bergerak amat dinamis di lingkungan internal maupun eksternal dirinya di tengah gerakan zakat di negeri ini.

Menulis dalam praktiknya ternyata bukan soal bisa atau tidak bisa, atau mampu dan tidak mampu. Juga bukan soal ada waktu luang atau tidak. Menulis ternyata membutuhkan kegelisahan. Gelisah karena adanya gap antara harapan dan kenyataan, atau gelisah karena situasi yang terus berubah atau justru tak ada perubahan.

Ada demikian luas hal yang bisa dituliskan seseorang, mulai soal minat, perasaan, keyakinan, teman, keluarga, sosial, agama, kemanusiaan atau apa pun. Semua hal pada dasarnya dapat digunakan untuk menjadi materi bagi dimulainya proses menulis seseorang.

Di balik luasnya tema untuk dituliskan, ternyata saat memulai menulisnya, seseorang harus bisa fokus dan memastikan apa yang akan ia tulis. Untuk menulis dengan penuh kesungguhan, setiap orang berbeda cara mendapatkan situasinya yang menurutnya sesuai.

Sebagian menyukai tempat dan situasi yang sepi, sehingga ia memilih menyendiri dan jauh dari keramaian. Yang lain justru merasa ide menulisnya keluar kala di keramaian.

Ketika kita membaca tulisan orang lain,  ada kalanya kita merasa bisa menulis lebih baik dan hebat. Kita merasa punya kemampuan lebih, pengalaman dan keterampilan untuk menuliskan sesuatu.

Bahkan seolah kita juga yakin kita seolah sebuah buku yang hidup, yang pengalaman demi pengalamannya adalah sesuatu yang istimewa dan perlu orang lain ketahui.

Sayang sekali, begitu mulai menulis dan merangkai kata yang ada agar bisa segera menjadi kalimat yang enak dan menarik, tiba-tiba tangan kita kaku tak bisa digerakan. Seolah huruf-huruf yang kita coretkan seolah berat menemukan sambungan kata berikutnya.

Para amil, tentu punya pengalaman banyak soal zakat dan dunianya. Makanya stock cerita ini sudah saatnya dituangkan jadi cerita yang enak dibaca dan mengalir renyah.

Kalau kita sudah bersepakat ingin menjadi bagian dakwah zakat, maka kita selain bisa berbicara dan mengedukasi dengan baik mustahik dan muzaki kita, sudah pula saatnya kita memperbaiki soal literasi kita. Terutama soal keterampilan menulis ini.

Seorang amil harus pula terampil dan terbiasa menulis. Amil harus benar-benar menulis sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan dan kemanusiaan. 

Agar makin terasah dalam menulis, seorang amil harus berlatih menulis setiap hari. Ia juga harus pula mampu melatih dirinya agar bisa lebih produktif dan mampu konsisten menulis. Berlatih menulis ini memang tak mudah.

Wahai Amil, Mulailah Menulis

Dunia amil sering kali diidentikkan dengan dunia yang senyap tanpa hiruk pikuk. Para amil zakat sering kali tak dikenali, selain sekadar nama organisasi tempatnya bernaung. Para amil kalah populer dibandingkan lembaga tempatnya sehari-hari mengabdikan diri.

Walaupun demikian, untuk urusan kampanye lembaga masing-masing, sejumlah cara kreatif ditempuh agar aktivitas para amil bisa terpublikasi dan pesannya bisa sampai pada para muzaki. Sisanya tentu saja publikasi ini bertujuan untuk menaikkan brand yang dimiliki sekaligus bentuk akuntabilitas organisasi. Alhasil, masyarakat pun mudah mengakses informasi sejumlah organisasi pengelola zakat beserta aktivitasnya.

Liputan sejumlah media cetak maupun online yang menceritakan aktivitas lembaga-lembaga pengelola zakat tak begitu sulit dicari. Arsip dari tahun-tahun sebelumnya pun terekam dengan baik dan runtut secara waktu dan jenis kegiatan.

Sayangnya, di balik melimpahnya informasi mengenai kiprah lembaga pengelola zakat yang ada, ternyata tak banyak cerita yang berisi tentang kehidupan para amilnya sendiri. Sesuatu yang secara berimbang mestinya juga didapatkan masyarakat agar mereka bisa utuh memahami bagaimana sesungguhnya kehidupan para amil zakat sehingga bisa secara proporsional memahami dan mengerti dengan siapa mereka berhadapan. Diperlukan informasi yang memadai yang mengungkapkan kedalaman situasi yang dihadapi para amil zakat; bagaimana perasaan dan suara hati mereka saat mendapati kendala dan hambatan saat bekerja, serta bagaimana kegembiraan mereka sebagai seorang amil zakat.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa justru tak banyak produksi tulisan yang dibuat sendiri oleh para amil zakat? Jawabannya bisa kita tilik ke belakang. Pertama, para amil rata-rata lebih menyukai pekerjaan di dunia kesunyian. Kedua, memang tak banyak para amil yang bisa berbagi waktu untuk menuliskan banyak hal tentang dunia yang digelutinya.

Sedikit jumlahnya para amil yang mampu memaksakan diri untuk bercerita lewat tulisan-tulisannya mengenai dunia amil dengan seluruh perasaan, pengetahuan dan pengalaman yang ia miliki. Saya percaya, banyak para amil yang sesungguhnya bisa menulis dengan baik tapi mereka beralasan terbatasnya waktu dan kesempatan yang ada sehingga mereka tak bisa melakukannya.

Sebagian amil tidak menulis karena takut jatuh ke perbuatan riya’ atau pamer amal. Mereka yang beralasan riya’, untungnya, berjumlah tak banyak. Dalam amatan langsung saya, alasan paling banyak amil tidak menulis adalah karena mereka tak punya bekal keterampilan menulis yang memadai.

Untuk memiliki cerita amil zakat yang menarik dan heroik, para amil tak selalu harus pergi jauh ke luar negeri. Atau ke tempat-tempat bencana yang mengharu-biru perasaan manusia yang akan membacanya.

Para amil di dalam negeri yang tak kemana-mana pun bisa berkesempatan menulis dengan baik dan disukai. Para amil dimanapun, sesungguhnya berpeluang memiliki banyak cerita yang bisa dibagikan.

Demikian pula mobilitas para amil yang menjangkau tempat-tempat ke seluruh dunia, terutama tempat-tempat yang memerlukan bantuan atas nama sosial dan kemanusiaan. Tak hanya satu atau dua negara, para amil zakat kini telah demikian masif membantu negara-negara lain yang terkena musibah, baik dalam musibah karena alam (gempa bumi, tsunami, banjir bandang, longsor, atau lainnya) maupun musibah akibat perang dan konflik antar-negara.

Para amil yang datang ke mana pun, dengan perjalanannya yang panjang dan penuh risiko, harus sudah mulai terbiasa menyiapkan catatan demi catatan yang memadai untuk menjadi bahan pembelajaran dan perbaikan kegiatan bagi generasi amil yang akan melanjutkan estafet gerakan zakat. Tulisan-tulisan para amil, sesederhana apa pun, akan menjadi penting nilainya apalagi ketika dituliskan dalam kondisi di lapangan dengan emosi yang terlibat penuh serta dilengkapi data-data lapangan. Tulisan-tulisan ini insya Allah akan menjadi warisan kebaikan.

Mudah-mudahan bagi para amil yang telah mewariskannya, Allah berkenan menjadikan hal ini sebagai tabungan kebaikan yang terus menerus mengalir pahalanya hingga Hari Akhir. Ada baiknya kita renungkan kata-kata Imam al-Ghazali ini: “Kalau engkau bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis.” Jadi, kapan mulai menulis?

#Tulisan ini mulai ditulis di Lion Air JT 652 dan diselesaikan seusai ngopi di Kafe Kopi 6161, Lombok, Kamis, 11 Juli 2019.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA