Sabtu, 30 Jumadil Awwal 1441 / 25 Januari 2020

Sabtu, 30 Jumadil Awwal 1441 / 25 Januari 2020

E-Commerce Indonesia Didorong Perbanyak Produk Halal

Selasa 30 Apr 2019 17:01 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Elba Damhuri

Pengunjung mengunjungi stand peserta pameran produk halal di acara Indonesia Shari’a Economic Festival ke 5 (ISEF), di Surabaya, Kamis (13/12).

Pengunjung mengunjungi stand peserta pameran produk halal di acara Indonesia Shari’a Economic Festival ke 5 (ISEF), di Surabaya, Kamis (13/12).

Foto: darmawan / republika
Saat ini produk halal sudah ada di e-commerce namun belum besar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) menyebut Indonesia memiliki potensi ekonomi syariah yang sangat besar. Hal ini terlihat dari banyaknya produk-produk halal yang telah mulai dijual oleh para usaha kecil dan menengah (UKM) hingga e-commerce di Indonesia.

Direktur Pengembangan Ekonomi Syariah dan Industri Halal KNKS Afdhal Aliasar mengatakan berbelanja di e-commerce sudah menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia. Namun, dia mengakui produk-produk halal belum membanjiri pasar e-commerce di Indonesia.

“Saat ini belum kelihatan terasa, tapi pelan-pelan KNKS ingin mendorong masyarakat supaya gaya hidup halal tidak hanya terjadi dalam transaksi konvesional atau transaksi pasar tradisional tetapi di pasar e-commerce juga,” kata Afdhal ketika dihubungi Republika, Selasa (30/4).

KNKS diberi mandat mengawal implementasi dua masterplan yang telah diselesaikan, yakni peta jalan keuangan syariah dan industri halal. Saat ini tim sedang mempelajari masterplan untuk menentukan strategi dan target ke depan.

KNKS merasakan saat ini diperlukan koordinasi dengan semua pihak, mulai dari pemerintah hingga pelaku industri sebelum memutuskan arah kerja.

“Ke depan, kami kerjakan lebih dari segala produk tapi UKM dari e-commerce, sehingga mereka dengan mudah melakukan sertifikasi halal. Jadi para UKM tadi diharapkan apply sertifikasi melalui marketplace, lalu datanya kita kirimkan ke Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH),” Afdhal menjelaskan.

KNKS ingin membentuk interkoneksi ekonomi digital syariah. Hal ini bertujuan agar ekonomi syariah juga tidak tertinggal, baik tekfin, lembaga keuangan syariah, niaga daring, dan keuangan sosial.

KNKS juga sudah bicara dengan Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI untuk membuatkan portal fatwa, sehingga KNKS juga bisa jadi tempat bertanya. “KNKS ingin semua gerak bersama. Bila saat ini Muslim di Indonesia ibarat hidup dalam dunia terbalik, ke depan KNKS berharap halal jadi sebuah tuntutan yang bisa dipenuhi,” jelasnya.

Bank Indonesia (BI) melansir data transaksi e-commerce di Indonesia pada 2018 mencapai Rp 77,766 triliun. Jumlah ini naik hingga 151 persen dibandingkan pada 2017 yang Rp 30,942 triliun.

Baca Juga



Pasar e-commerce di Indonesia merupakan pasar yang besar, terutama di Asia Tenggara. Dalam empat tahun terakhir, pasar e-commerce Indonesia mengalami kenaikan hingga 500 persen.

Sebelumnya, Bukalapak, salah satu pasar online terbesar di Indonesia, berencana menyediakan seksi khusus produk halal. Seksi ini diharapkan Bukalapak bisa diluncurkan segera.

Public Policy & Government Relation Manager Bukalapak Ma Isa Lombu menuturkan, Bukalapak percaya halal itu banyak dan yang diharamkan sedikit. Bukalapak terus berikhtiar menghindarkan praktik maisir, gharar, transaksi zalim, riba, dan menjual barang haram. Karena itu, Bukalapak akan menyiapkan seksi khusus produk halal.

Berita-Berita Industri Halal dan Keuangan Syariah KLIK di Sini

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA