Friday, 22 Zulhijjah 1440 / 23 August 2019

Friday, 22 Zulhijjah 1440 / 23 August 2019

Program Bibit Unggul 500 Telan Anggaran Rp 5,5 Miliar

Kamis 18 Jul 2019 13:55 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Friska Yolanda

Kondisi benih unggul yang akan diberikan kepada petani dalam program pemberian bibit unggul 500 juta batang atau Bun500, di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (18/7).

Kondisi benih unggul yang akan diberikan kepada petani dalam program pemberian bibit unggul 500 juta batang atau Bun500, di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (18/7).

Foto: Republika/Imas Damayanti
Kementan menargetkan nilai produksi mencapai Rp 274,9 triliun dari program Bun 500.

REPUBLIKA.CO.ID, PALANGKA RAYA -- Kementerian Pertanian (Kementan) meluncurkan pemberian bibit unggul 500 batang atau Bun 500. Program distribusi bibit tersebut akan dilangsungkan selama lima tahun dari priode 2019-2024 secara gratis untuk masyarakat khususnya perkebunan rakyat. Anggaran yang disiapkan dalam program tersebut menembus Rp 5,5 triliun hingga lima tahun. 

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menargetkan, perkebunan Indonesia menjadi nomor satu di dunia pada 2024. Tak tanggung-tanggung, pemberian bibit unggul dalam program Bun 500 itu menelan anggaran yang cukup fantastis sehingga diharapkan mampu mengembalikan produksi nasional yang ekspansif ke kancah global. 

"Kita harus bangkitkan kejayaan rempah Indonesia. Saat ini bahkan ekspor pertanian kita didominasi oleh komoditas perkebunan," kata Amran, di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (18/7). 

Demi meningkatkan produktivitas itu, kata Amran, Kementan sudah sudah memulai penyiapan benih unggul gratis sejak tiga tahun lalu. Program dari sektor Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) tersebut, kata dia, dilakukan secara terencana dan efektif, sebab tanaman perkebunan butuh waktu panjang untuk bisa panen. 

Sehingga, menurut dia, apabila pemerintah salah memilih dan menentukan bibit yang akan diprioritaskan maka akan sangat merugikan bagi kelangsungan sektor pertanian ke depannya. Dia berharap akselerasi pengadaan benih harus memperhatikan kuantitas, kualitas, sekaligus efektivitas distribusinya.

"Distribusi benih gratis ini harus dengan memperhatikan keunggulan komparatif suatu daerah," kata Amran. 

Ke depan, Amran berharap program strategis bidang perkebunan ini juga diikuti dengan hilirisasi atau pengembangan industri olahan agar nilai tambahnya bisa dirasakan oleh petani. Di sisi lain, pengembangan korporasi petani juga menjadi catatan penting di mana petani terlibat dan memiliki saham atas industri pertanian yang digelutinya.

Sebagai catatan, melalui Bun 500 selama 5 tahun hingga tanaman berproduksi, Kementan menargetkan nilai produksi mencapai Rp 274,9 triliun. Bahkan hingga produk olahan, nilai produksi Bun500 berpotensi mencapai lebih dari Rp 1.180 triliun. Dengan industri pengolahan, penyerapan tenaga kerja diproyeksi lebih dari 9,5 juta orang atau meningkat 40 persen dari total tenaga kerja perkebunan yang ada saat ini.

Direktur Jenderal (Dirjen) Perkebunan Kasdi Subagyono menyatakan, program Bun 500 menargetkan peningkatan produktivitas hingga tiga kali lipat dengan menyediakan benih bermutu, berkualitas, dan bersertifikat.

Untuk menyediakan benih tersebut, Kementan menyiapkan minimal 50  pengembangan kebun sumber benih atau nursery. Kapasitas 50 nursery tersebut mencapai 200 juta batang, sehingga pihaknya menilai perlu kerja sama dari produsen dengan penangkat benih berstandar ISO 9001;2015 sebagai mitra strategis untuk menyediakan 300 juta batang lainnya.

"Dengan demikian, keuntungannya adalah benih yang dihasilkan bisa dikontrol secara kualitas. Kebun sumber benih juga tidak perlu khawatir mengenai pasar, karena akan dibagikan gratis oleh pemerintah baik untuk replanting, rehabilitasi, maupun ekspansi," kata Kasdi.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA