Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

MAMI: Semester I 2019, Pasar Obligasi Menguat 8,21 persen

Kamis 18 Jul 2019 09:58 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Friska Yolanda

Seorang mengunjung memotret layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (28/6/2019).

Seorang mengunjung memotret layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (28/6/2019).

Foto: Antara/Puspa Perwitasari
Sejumlah sentimen positif mendorong terciptanya iklim kondusif di pasar obligasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) mencatat sepanjang tahun berjalan hingga akhir Juni, pasar obligasi Indonesia telah mencatat penguatan 8,21 persen. Hal ini dipengaruhi oleh iklim pasar finansial yang saat ini sangat suportif bagi pasar obligasi domestik. 

Menurut Senior Portfolio Manager Manulife Aset Manajemen Indonesia Syuhada Arie, ada potensi lebih lanjut untuk pasar obligasi Indonesia. "Kebijakan The Fed mengarah lebih akomodatif, adanya potensi penurunan suku bunga Bank Indonesia, dan kenaikan peringkat kredit Indonesia dari S&P merupakan faktor-faktor yang positif bagi pasar obligasi Indonesia," ujarnya dalam keterangan pers, Kamis (18/7).

Baca Juga

Selain itu, lanjut Syuhada, saat ini sekitar 29 persen dari obligasi di dunia atau sekitar 12,5 triliun dolar AS berada pada level imbal hasil negatif. Kondisi ini berpotensi mendorong global yield hunt, dimana investor akan mencari investasi yang masih menawarkan imbal hasil positif. 

"Pasar obligasi Indonesia dapat diuntungkan dari situasi ini karena obligasi Indonesia menawarkan imbal hasil yang tinggi. Kondisi makroekonomi kita juga suportif, di mana nilai tukar rupiah bergerak stabil, dan kondisi politik pascapemilu juga sudah lebih tenang," jelasnya.

Menurutnya gabungan kondisi tersebut menciptakan iklim yang sangat kondusif bagi pasar obligasi domestik. Di sisin lain, menurutnya ada beberapa keunggulan berinvestasi di reksa dana obligasi dibandingkan dengan berinvestasi di obligasi secara langsung. 

Pertama biaya minimum investasi di reksa dana obligasi relatif terjangkau. Hanya dengan Rp 100 ribu, investor bisa mulai berinvestasi di reksa dana obligasi. 

"Untuk membeli obligasi secara langsung dibutuhkan minimum investasi yang jauh lebih besar," ucapnya.

Kedua, menurutnya, pengelolaan aktif, reksa dana obligasi dikelola oleh tim manajer investasi yang profesional dengan strategi pengelolaan aktif. Pengelolaan aktif artinya manajer investasi dapat merubah posisi lebih agresif atau lebih konservatif sesuai dengan outlook dan kondisi pasar terkini. Oleh karena itu manajer investasi dapat memanfaatkan fluktuasi di pasar untuk mendapatkan return yang lebih optimal. 

Maka dengan kondisi tersebut pihaknya masih memandang positif potensi pasar obligasi Indonesia. Untuk memanfaatkan momentum positif ini portofolio kami berada pada postur yang agresif dengan posisi overweight terhadap benchmark. 

Tentunya posisi ini dapat berubah dari waktu ke waktu tergantung pada dinamika pasar ke depannya. "Beberapa faktor risiko apabila ada perubahan ekspektasi terhadap pertumbuhan ekonomi global, perubahan ekspektasi mengenai suku bunga The Fed, dan apabila tensi dagang memanas dan berpotensi terjadinya eskalasi perang dagang besar-besaran atau meluas mencakup negara lain," ungkapnya. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA