Thursday, 21 Zulhijjah 1440 / 22 August 2019

Thursday, 21 Zulhijjah 1440 / 22 August 2019

Pelibatan Industri Penting Bagi Pendidikan Tinggi Vokasi

Kamis 18 Jul 2019 09:32 WIB

Rep: Inas Widyanuratikah/ Red: Friska Yolanda

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir

Foto: Fakhri Hermansyah
Lulusan pendidikan vokasi tak hanya punya ijazah tetapi juga sertifikat kompetensi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) bersama dengan perguruan tinggi melakukan peningkatan kualitas pendidikan vokasi. Salah satu yang dilakukan untuk peningkatan pendidikan vokasi adalah diterapkannya dual system

Dual system melibatkan sektor industri dalam penyusunan kurikulum pendidikan tinggi. Pembelajaran vokasi di kelas dipadukan bersama praktik di lingkungan kerja dengan perbandingan 30 persen teori dan 70 persen praktik.

Baca Juga

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan revitalisasi vokasi akan terfokus pada pembenahan kurikulum, fasilitas, dan infrastruktur, serta kualitas tenaga pendidik. "Sehingga para lulusan pendidikan tinggi vokasi tidak hanya memegang ijazah namun memiliki sertifikat kompetensi," kata Nasir, saat menghadiri seminar Revitalisasi Pendidikan Tinggi Vokasi di Indonesia, di Universitas Prasetiya Mulya, Rabu (17/7). 

Hal senada diungkapkan Managing Director Sinar Mas, G Sulistiyanto. Ia menyambut baik rencana pemerintah terkait sertifikat kompetensi tersebut. Ia pun menilai kebijakan pemerintah memberlakukan super tax deductible atau keringanan pajak bagi industri yang berinvestasi pada pendidikan vokasi adalah hal yang baik.

"Harapannya seluruh inisiatif perusahaan dalam pendidikan vokasi yang menghasilkan lulusan tersertifikasi berkesempatan mendapatkan insentif tadi," kata Sulistiyanto. 

Lebih lanjut, Nasir juga menyoroti banyak tenaga kerja Indonesia yang belum memiliki sertifikasi. Padahal, dalam profesinya ada hal yang perlu dipastikan seperti keamanan kerja dan pelayanan kepada pelanggan. 

Selain mahasiswa yang didorong memiliki sertifikat kompetensi, para dosen juga harus melengkapi sertifikat mereka. "Saya sudah lakukan (retoolling) besar-besaran pada 2018, memperbarui para dosen yang belum mendapatkan sertifikat kompetensi," kata dia lagi.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA