Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Pedagang Keluhkan Pedasnya Harga Cabai

Kamis 18 Jul 2019 07:59 WIB

Red: Budi Raharjo

Pedagang sayuran sedang menunggui lapaknya yang sepi pengunjung di Pasar Baru Bekasi, Bekasi Timur, Kota Bekasi, Rabu (17/7). Menurunnya jumlah pembeli lantaran harga cabai rawit merah masih bertahan di angka Rp 80.000 per kilogram.

Pedagang sayuran sedang menunggui lapaknya yang sepi pengunjung di Pasar Baru Bekasi, Bekasi Timur, Kota Bekasi, Rabu (17/7). Menurunnya jumlah pembeli lantaran harga cabai rawit merah masih bertahan di angka Rp 80.000 per kilogram.

Foto: Republika/Bayu Adji P
Masak kenaikan harga cabai bisa sampai 100 persen lebih.

REPUBLIKA.CO.ID, Dampak melambungnya harga cabai mulai dirasakan para pedagang makanan hingga pemilik restoran kecil. Ada yang memilih tak lagi menyediakan cabai. Ada pula yang terpaksa mengurangi keuntungan karena alasan persaingan bisnis.

Endi (50 tahun), pemilik warung makanan di sekitar Kompleks Pemerintahan Kabupaten Bogor, hanya bisa mengeluh setiap berbelanja kebutuhannya akhir-akhir ini. Kenaikan harga cabai dinilainya sudah tidak masuk akal.

Menurut Endi, dengan uang belanja Rp 200 ribu, ia biasanya mendapatkan banyak bahan pokok. Namun belakangan, uang belanjanya itu hanya bisa untuk membeli cabai dan sedikit kebutuhan lainnya. “Masa kenaikan harga cabai bisa sampai 100 persen lebih, padahal ini baru masuk musim kemarau,” kata Endi, Rabu (17/7), dengan nada gusar.

Karena harga cabai terus naik, ia terpaksa tak lagi menyediakan cabai rawit sebagai pelengkap jajanan gorengan di warungnya. Sejak dua pekan lalu, ia mengganti cabai rawit dengan saus sambal dan juga kecap.

“Belanja cabai rawit hijau biasanya Rp 40 ribu per kg, sekarang bisa sampe Rp 80 ribu per kg,” kata Endi mengeluh lagi. Dia menuturkan, bukan hanya cabai yang harganya naik. Wortel dan bawang juga mulai naik meskipun dirasanya masih masuk akal. Ia mengaku pendapatan setiap harinya mulai mengalami penurunan seiring naiknya harga bahan pokok.

“Saya selalu belanja di Pasar Cibinong terus. Kata pedagangnya, harga naik karena pengiriman yang telat dan akibat kemarau juga, tapi kenaikan sekarang menurut saya tinggi sekali,” ujar dia.

Ia berharap kenaikan harga cabai segera teratasi. Jika berlangsung lebih lama, ia khawatir pendapatannya akan semakin berkurang. “Semoga pemerintah bisa ngasih pasokan lagi, biar penjual enggak ngap-ngapan,” kata dia.

Siasat berbeda dilakukan Dedi Musashi, pemilik warung makan El'rika di Indramayu, Jawa Barat. Ia memilih mengurangi keuntungan ketimbang menaikkan harga jual di tengah ketatnya persaingan di antara sesama warung makan.

Dia mengatakan, kenaikan harga cabai sangat memberatkannya mengingat menu makanan yang dijualnya kebanyakan membutuhkan cabai. "Warung saya menjual ayam geprek, ayam goreng, ayam bakar, dan dendeng sapi, yang semuanya membutuhkan sambal pedas dalam jumlah banyak," kata Dedi.
 
Ia mengaku tak bisa mengurangi takaran cabai dalam sambalnya karena akan mengurangi rasa pedas. Ia tak bisa menaikkan harga jual makanan karena mengingat banyaknya warung makan lain yang juga menjual menu serupa. ''Jika harga dinaikkan, nanti konsumen beralih ke yang lain,'' ujar Dedi.

Ia mengatakan, harga cabai rawit merah yang dibelinya di Pasar Baru Indramayu saat ini mencapai Rp 80 ribu per kilogram. Sementara, cabai rawit biasa seharga Rp 45 ribu per kilogram dan cabai merah Rp 55 ribu per kilogram.

Hal serupa juga dilakukan seorang pemilik warung makanan di Kelurahan Margadadi, Kecamatan Indramayu, Wati. Dia juga memilih mengurangi keuntungan dibandingkan menaikkan harga jual makanannya. "Jadi, serbasusah. Kalau menaikkan harga, pelanggan pasti protes," kata Wati pasrah.

Kenaikan harga cabai turut membuat para pedagang makanan di Kota Bekasi menjerit. Salah satunya Ari (34), yang berjualan gado-gado dan ketoprak di Simpang Kartini, Bekasi. "Udah parah ini naiknya, kita yang jualan serbasusah," ujar Ari.

Hingga saat ini, Ari menambahkan, ia belum menaikkan harga jual ketopraknya yang seharga Rp 12 ribbu karena takut pelanggan kabur. Strategi mengurangi cabai dalam komposisi makanan juga tak ia lakukan. Padahal, itu bisa dijadikan cara untuk menghemat modal.

"Kalau dikurangi nanti harga beda, pelanggan juga kabur. Ya, ini risiko jualan namanya," ucap Ari sembari terus tangannya sibuk memotong dan mengulek gado-gado pelanggannya.

Meski demikian, ia tak menutup kemungkinan akan menaikkan harga jual gado-gado dan ketopraknya jika harga cabai terus naik. "Lama-lama bisa gak tahan juga kita untuk tak menaikkan harga jual makanan," ujar dia.

Hendra (24) juga mengeluhkan kenaikan harga cabai. Dia yang berjualan gorengan di dekat Pasar Proyek Kota Bekasi mengaku tak bisa berbuat apa-apa dengan kenaikan ini. "Sebagian yang beli ada yang ngerti (cabai naik), mereka pun minta cabainya tidak banyak. Tapi yang tidak, ya tetap juga minta banyak," kata Hendra.

Dia pun berharap pemerintah segera turun tangan untuk mengatasi kenaikan harga cabai ini. "Semoga cepat turun karena kita yang jualan paling terdampak," ucap dia.

Baca Juga

photo
Pedagang cabai di Pasar Induk Cikurubuk, Kota Tasikmalaya, Rabu (17/7).



Kementerian Pertanian (Kementan) sebelumnya menyampaikan, akan ada panen raya cabai pada 25 Juli di beberapa sentra produksi. Jika panen tersebut berlangsung, harga cabai di pasaran dipastikan kembali normal.

Direktur Jenderal Tanaman Hortikultura Kementan Suwandi mengatakan, sambil menunggu panen raya, Kementan akan menerapkan antisipasi berupa pemanfaatan cabai kering dan olahan yang sudah diproduksi di sentra-sentra produksi cabai.

“Kami sudah kasih itu alat pengering cabainya di sentra produksi, ya untuk sementara pakai cabai kering kan bisa,” kata Suwandi saat dihubungi Republika, Selasa (16/7).

Kementan, kata dia, telah memberikan alat pengering ke 30 kabupaten yang tingkat produktivitas cabainya tinggi. Dengan begitu, pemanfaatan cabai kering dapat disalurkan ke pasar guna memenuhi kebutuhan konsumsi. Meski begitu, Suwandi belum dapat mengungkap pasti berapa jumlah produksi cabai kering. n lilis sri handayani/zainur mahsir ramadhan/febrian a ed: satria kartika yudha

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA