Thursday, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 January 2020

Thursday, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 January 2020

Sleman Waspadai Siklus Empat Tahunan DBD

Rabu 17 Jul 2019 14:05 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Pasien demam berdarah dengue (ilustrasi)

Pasien demam berdarah dengue (ilustrasi)

Foto: Republika/Prayogi
Bupati Sleman minta warga waspadai siklus DBD khususnya di musim kemarau

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Kabupaten Sleman memiliki siklus empat tahunan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD). Apalagi, data Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman ada kenaikan kasus secara signifikan.

Terakhir, siklus empat tahunan DBD di Kabupaten Sleman terjadi pada 2016. Artinya, diperkirakan siklus serupa dapat kembali terjadi di Kabupaten Sleman pada 2019 atau 2020.

Dalam sambutan saat upacara bendera rutin Pemkab Sleman, Bupati Sleman, Sri Purnomo, mengajak masyarakat untuk mewaspadai siklus tersebut. Terlebih, saat ini tengah memasuki kemarau.

"Pertengahan tahun ini kita dihadapkan tingginya angka prevalensi penyakit DBD, pada 2019 kasus DBD di Sleman mengalami peningkatan kasus dikarenakan pengaruh siklus empat tahunan," kata Sri, Selasa (17/7).

Imbauan Bupati Sleman itu dibacakan Kapolres Sleman, AKBP Rizky Ferdiansyah, di Lapangan Pemda Sleman. Kapolres sendiri bertugas sebagai inspektur upacara.

Kepada aparat-aparat pemerintah, diharapkan dapat menjadi teladan dan garda terdepan dalam memberantas DBD. Salah satunya, mengajak keluarga dan masyarakat di lingkungan sekitar menerapkan PHBS.

PHBS merupakan singkatan dari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Sehingga, penerapan gaya hidup itu akan menghindarkan masyarakat dari potensi-potensi terjangkitnya DBD.

"PHBS harus menjadi bagian dari gaya hidup dan budaya masyarakat di manapun dan kapanpun," ujar Sri.

Sri menekankan, pola hidup sehat dapat dimulai dari langkah kecil seperti membiasakan diri mencuci tangan menggunakan sabun. Baik sebelum maupun sesudah dari kamar mandi.

Lewat langkah kecil itu, tentu akan meningkatkan peran serta dari masyarakat. Utamanya, dalam usaha pemberantasan sarang nyamuk dengan mengubur, menguras dan menutup tempat air atau 3M.

Melalui 3M, masyarakat sendiri di masing-masing rumah dapat menghindari potensi kemunculan sarang nyamuk. Hal itu dapat menambahkan imunitas masyarakat dari potensi gigitan nyamuk.

Peningkatan kewaspadaan atas nyamuk Aedes Aegypti dapat dilakukan lewat gerakan bersih, pemberian larvasida dan ikanisasi. Masyarakat harus paham pencegahan jauh lebih baik dari mengobati. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA