Jumat, 22 Zulhijjah 1440 / 23 Agustus 2019

Jumat, 22 Zulhijjah 1440 / 23 Agustus 2019

Bio Farma Ekspor Vaksin Polio 3,4 Juta ke Angola

Selasa 16 Jul 2019 22:06 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Gita Amanda

Direktur Pemasaran Bio Farma Sri Harsi Teteki bersama jajaran direksi dan perwakilan Badan Pengawas Obat dan Makanan secara simbolis melepas ekspor produk Monovalent Oral Polio Vaccine type 2 (mOPV2) ke negara Angola, di halaman kantor Bio Farma, Jalan Kota Bandung, Selasa (16/7).

Direktur Pemasaran Bio Farma Sri Harsi Teteki bersama jajaran direksi dan perwakilan Badan Pengawas Obat dan Makanan secara simbolis melepas ekspor produk Monovalent Oral Polio Vaccine type 2 (mOPV2) ke negara Angola, di halaman kantor Bio Farma, Jalan Kota Bandung, Selasa (16/7).

Foto: Republika/Edi Yusuf
Penyediaan vaksin mOPV2 ini merupakan kepercayaan UNICEF kepada Bio Farma

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Bio Farma kembali melepas ekspor produk terbarunya, ke  Angola, berupa Monovalent Oral Polio Vaccine type 2 (mOPV2), sebanyak 3,4 juta dosis yang akan digunakan untuk pencegahan penyebaran virus polio liar type 2 di kawasan tersebut, Selasa (16/7) di Kantor Bio Farma di Bandung. 

Baca Juga

Menurut Direktur Pemasaran Sri Harsi Teteki, mOPV2 merupakan produk yang baru saja mendapatkan Prakualifikasi (PQ) WHO pada bulan Juni 2019 yang lalu. Produk ini, merupakan produk terbaru Bio Farma yang dalam proses produksinya, memerlukan penanganan yang khusus. Terutama, terkait dengan persyaratan containment, biosafety dan biosecurity virus polio type 2.

"Tahap pertama kirimannya 1,4 juta dosis ke Anggola untuk perdana dari Bio Farma ke anggola. Nilai rupiahnya sekitar Rp 6 miliar. Yang perdana ini. Berikutnya, akan ada ke Somalia dan Ethopia," ujar Sri Harsi Teteki.

Turut hadir dalam pelepasan perdana ekspor ini antara lain, Jajaran Direksi Bio Farma, Direktur Produksi Juliman,  Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM) yang diwakilkan oleh Rita Endang sebagai Direktur Pengawasan Produksi Obat, Narkotika, Psikotropika dan Prekursor dan Direktur Politik Luar Negeri dan Kerja Sama Pembangunan Internasional Kementerian PPN / Bappenas, Wisnu Utomo.

Menurut Sri Harsi Teteki, penyediaan vaksin mOPV2 ini merupakan kepercayaan dari The United Nations Children's Fund (UNICEF)  kepada Bio Farma, yang merupakan kelanjutan permintaan dari the Global Polio Eradication Initiative (GPEI) dan – WHO pada Agustus 2018, untuk melakukan stockpiling mOPV2 guna mengantisipasi terjadinya global outbreak virus polio liar type 2.

Sri Harsi Teteki menjelaskan, total kontrak penyedian vaksin mOPV2 dengan UNICEF adalah sebanyak 60 juta dosis. Untuk teknis pengiriman ke negara tujuan akan diatur  oleh UNICEF.

“Alhamdulillah, Bio Farma  mendapatkan kepercayaan dari UNICEF pada Juni 2019 yang lalu, untuk penyediaan finished product vaksin mOPV2 sebanyak 60 juta dosis. Dari 60 juta dosis tersebut, sebanyak 3,4 juta dosis pertama akan kami kirimkan ke Angola dalam bentuk finished product”, papar Sri Harsi Teteki.

Menurut Sri Harsi Teteki, selain Angola rencana pengiriman selanjutnya adalah Somalia dengan jumlah sebanyak 633 ribu dosis dan Ethiopia sebanyak 1.14 juta dosis. 

Saat ini, kata dia, Bio Farma sedang berkomunikasi secara intensif dengan UNICEF terkait jadwal pengirimannya.

Selain 60 juta dosis finished product, Bio Farma juga diminta untuk menyediakan 350 juta dosis mOPV2 dalam bentuk bulk (konsetrat vaksin mOPV2). Penyediaan mOPV2 dalam bentuk bulk ini juga merupakan bagian dari the Global Bulk Stockpile sesuai permintaan GPEI-WHO melalui UNICEF sebagai procurement agency WHO.

Sementara menurut Direktur Produksi, Juliman, dengan dipilihnya Bio Farma sebagai penyedia tunggal bulk mOPV2 ini, merupakan gambaran kepercayaan dunia kepada Bio Farma, yang selalu bisa mempertahankan kualitas produknya. Serta, sesuai dengan standar Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan BPOM, terutama sisi safety, quality, efficacy, dari setiap produk yang dihasilkan oleh Bio Farma.

Juliman mengatakan, vaksin yang akan digunakan untuk program imunisasi di negara yang berada di kawasan Afrika Tengah tersebut, merupakan vaksin terbaru buatan Bio Farma yang baru saja mendapatkan Pre-Qualification World Health Organization (PQ-WHO) pada bulan Juni 2019 yang lalu.

Hal ini, berlanjut pada kepercayaan dunia kepada Bio Farma, untuk mendukung program WHO terutama dalam program eradikasi penyakit polio secara global, dan kepercayaan dari UNICEF ini juga sejalan (in-line) dengan program WHO. Yakni, “Polio Eradication and Endgame Strategic Plan 2019-2023”.

Juliman mengatakan, keberhasilan produk mOPV2 Bio Farma dalam memperoleh PQ-WHO, tidak  terlepas dari peran BPOM sebagai Bentuk dukungan BPOM kepada Bio Farma, selaku lembaga pemerintah yang melakukan fungsi pengawasan dan juga bimbingan  kepada pelaku usaha. Terutama, pada produsen obat dengan selalu.memberikan dukungan yang konkrit untuk pengembangan industri farmasi.

Selain itu, menurut Juliman, peran yang tidak kalah pentingnya terkait prestasi Bio Farma dalam memproduksi mOPV2 dengan standard internasional tersebut adalah dari Indonesian National Authority for Containment (I-NAC) yang telah memberikan tanggapan positif atas hasil assessment yang dilakukan awal tahun 2019. Serta, memberikan persetujuannya untuk memproduksi mOPV2 ini melalui surat tanggal 28 Februari 2019.

Sementara menurut Direktur Pengawasan Produksi Obat, Narkotika, Psikotropika dan Prekursor, BPOM,

Rita Endang, BPOM mempunyai komitmen untuk terus mendorong Bio Farma dan industri farmasi Indonesia lainnya untuk agar bisa terus mengekspor produknya.

“Kami mengapresiasi kepada PT. Bio Farma Atas ekspor perdananya ke Angola, yang diharapkan akan diikuti dengan  ekspor ke negara-negara  lainnya," katanya.

Dengan keberhasilan ini, kata dia, PT Bio Farma diharapkan dapat masuk ke pasar global secara lebih luas terhadap produk biologi lainnya membuka peluang kerja sama dengan negara lain. Terutama, untuk bidang alih teknologi bagi kemandirian industri.

"Hal ini diharapkan dapat meningkatkan nilai ekspor  dan keberhasilan ini juga diikuti oleh industri-industri farmasi dalam negeri lainnya," katanya. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA