Rabu, 20 Zulhijjah 1440 / 21 Agustus 2019

Rabu, 20 Zulhijjah 1440 / 21 Agustus 2019

Harga Cabai Rawit di Ngawi Tembus Rp 70 Ribu Per Kilogram

Senin 15 Jul 2019 17:55 WIB

Red: Christiyaningsih

Seorang pembeli dan penjual melakukan transaksi pembelian cabai di Pasar Senen, Jakarta, Selasa (9/7/2019).

Seorang pembeli dan penjual melakukan transaksi pembelian cabai di Pasar Senen, Jakarta, Selasa (9/7/2019).

Foto: Antara/M Risyal Hidayat
Menurut pedagang di Ngawi kenaikan harga cabai terjadi setiap hari.

REPUBLIKA.CO.ID, NGAWI -- Harga cabai rawit di pasar tradisional Kabupaten Ngawi, Jawa Timur mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Harga cabai rawit menembus angka Rp 70 ribu per kilogram akibat pasokan yang menurun.

Baca Juga

Salah satu pedagang sayuran di Pasar Besar Ngawi bernama Slamet mengatakan harga cabai rawit sejak awal Juli terus mengalami kenaikan. "Kenaikan terjadi setiap hari. Kemarin harga masih di kisaran Rp 65 ribu hingga Rp 66 ribu per kilogram. Hari Senin ini, harga sudah tembus Rp 73 ribu per kilogram," ujar Slamet, Senin (15/7).

Kenaikan harga yang luar biasa itu tidak hanya dikeluhkan konsumen namun juga para pedagang. Tingginya harga cabai rawit membuat daya beli konsumen turun.

"Kalau harga tinggi ya tidak laku. Pembelian jadi berkurang. Biasanya bisa jual hingga 10 kilogram per hari kini hanya setengahnya saja," kata dia.

Harga yang tinggi juga terjadi untuk jenis cabai lainnya yakni cabai keriting dan cabai merah besar. Berdasarkan pantauan, harga cabai keriting dalam dua hari terakhir berada di kisaran Rp 63 ribu hingga Rp 65 ribu per kilogram.

Sedangkan harga cabai merah besar mencapai Rp 60 ribu per kilogram. Padahal kemarin masih di angka Rp 58 ribu per kilogram.

Para pedagang menilai naiknya harga cabai dipicu minimnya pasokan barang dari sentra produksi. Tanaman cabai banyak yang gagal panen akibat musim kemarau.

Mereka memperkirakan tingginya harga cabai masih akan terjadi selama musim kemarau berlangsung. Itu karena petani enggan menaman cabai karena belum ada varietas yang tahan dengan anomali iklim. Panen raya berikutnya di daerah produksi diperkirakan baru akan dilakukan pada Agustus mendatang.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA