Monday, 24 Muharram 1441 / 23 September 2019

Monday, 24 Muharram 1441 / 23 September 2019

BI: Defisit Transaksi Berjalan Tantangan Utama Ekonomi RI

Senin 15 Jul 2019 16:56 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Nidia Zuraya

Defisit Neraca Transaksi Berjalan

Defisit Neraca Transaksi Berjalan

Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Melebarnya defisit transaksi berjalan karena Indonesia masih bergantung ke komoditas

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) menyebut permasalahan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) masih menghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal ini menjadi pekerjaan rumah yang harus ditangani serius oleh pemerintah dan pemangku kepentingan otoritas jasa keuangan.

Baca Juga

Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia Nanang Hendarsah mengatakan melebarnya defisit transaksi berjalan lantaran Indonesia masih bergantung barang komoditas untuk aktivas ekspor, sehingga ketika harga komditas turun maka ekspor ikut menurun.

“Tantangan kita itu CAD karena memang Indonesia masih sangat mengandalkan harga komoditas, sehingga harga komoditas turun, ekspor ikut turun. Ini yang men-down grade kita,” ujarnya saat acara ‘Bank OCBC NISP Coffee Morning’ di Plataran Menteng, Jakarta, Senin (15/7).

Menurut Nanang semestinya pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat ditopang oleh aktivitas ekspor berbasis manufaktur. Hal ini yang perlu didorong industri untuk memproduksi bahan baku guna mengurangi ketergantungan pada luar negeri.

“Bagaimana agar growth kita nanti ditopang ekspor berbasis manufaktur. Kuncinya industri dasar dibangun kuat agar ketergantungan bahan baku hingga intermediary dikurangi,” ungkapnya.

Menurutnya agar pertumbuhan ekonomi bisa mencapai di atas 5 persen maka ekspor Indonesia harus masuk ke dalam industri global atau global chain value

"Industri dasar kita harus kuat agar tidak bergantung barang impor. Kita harus masuk ke Industri global yang sangat bergerak dengan kemajuan industri global, Ini yang menambah value added," ucapnya.

Sementara Direktur PT Ashmore Asset Management Indonesia Arief Cahyadi Wana menambahkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I,II dan III belum terlalu optimal lantaran sentimen-sentimen dari dunia politik. Alhasil, membuat defisit transaksi berjalan Indonesia membengkak menjadi 2,6 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal I-2019 .

“CAD menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sekarang. Tidak hanya perlu menggenjot ekspor, tapi pemerintah perlu menambah value added barang komoditas,” ungkapnya.

Menurutnya selama ini para investor lokal dan asing melihat perekonomian Indonesia belum maksimal. Diharapkan pada 2020 penanaman modal asing (foreign direct investment) akan lebih banyak.

"Mudah-mudahan FDI akan masuk karena FDI merupakan kunci untuk pertumbuhan itu sendiri," ungkapnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA