Saturday, 11 Sya'ban 1441 / 04 April 2020

Saturday, 11 Sya'ban 1441 / 04 April 2020

Orangutan yang Ditunggu-tunggu Warga Kawasan Batangtoru

Senin 15 Jul 2019 15:57 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Kegiatan pelatihan dan pembentukan kader konservasi berbasis kearifan lokal masyarakat untuk melindungi orangutan Tapanuli dan kelestarian ekosistem Batang Toru di Dusun Sitandiang, Desa Bulu Mario, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel).

Kegiatan pelatihan dan pembentukan kader konservasi berbasis kearifan lokal masyarakat untuk melindungi orangutan Tapanuli dan kelestarian ekosistem Batang Toru di Dusun Sitandiang, Desa Bulu Mario, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel).

Foto: Republika/Idealisa
Pembangunan PLTA tidak berada di jalur yang sering dikunjungi orangutan.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Idealisa Masyrafina

Kemunculan orangutan di Desa Sugi ditunggu warga. Ridwan Simatupang, warga Desa Sugi, Kecamatan Marancar, Tapanuli Selatan mengatakan orangutan datang malah menguntungkan, karena membuat kera kabur dari kebun salak.

Ridwan bercerita, kera suka mengacak-acak kebun salak, tetapi takut kepada orangutan. Warga Desa Sugi rata-rata berkebun salak, sehingga mereka diuntungkan dengan kehadiran orangutan yang mengusir kera-kera. Ridwan mengaku pernah melihat orangutan dalam kurun waktu cukup lama, yakni dua bulan, karena orangutan yang singgah tersebut dalam kondisi hamil.

Hal yang sama juga dirasakan Erwin Pasaribu, warga Desa Hatabosi. Di desanya, tidak hanya orangutan yang dilindungi masyarakat, namun juga siamang. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, orangutan memiliki kesaktian dan apabila menyakiti mereka akan terkena kutukan. Kepercayaan inilah yang membuat masyarakat tidak mengusik keberadaan orangutan.

"Jadi kami tidak pernah merasa terganggu,’’ kata Erwin, pertengahan Mei lalu.

Bagi warga Desa Hatabosi, durian di atas pohon adalah hak orangutan. ‘’Jika sudah jatuh, jadi hak kita," kata Erwin.

Bagi warga desa di sekitar kawasan hutan Cagar Alam Sibual-buali, kehadiran orangutan di hutan produksi merupakan hal biasa. Di hutan produksi itu, warga menanam beragam tanaman buah, seperti durian, salak, manggis, nangka, petai, dan langsat.

Terlepas dari kepercayaan nenek moyang, ada juga yang merasa dirugikan oleh kehadiran orangutan. Bonar Siregar dari Desa Batangpaya merasa dirugikan karena enam pohon durian miliknya menjadi semalam bisa rugi Rp 600 ribu," keluh Bonar.

Orangutan diperkirakan lebih banyak mampir ke Desa Batangpaya. Datang berkelompok 5-8 orangutan. Orangutan memiliki daya jelajah yang tinggi.

Upaya konservasi dengan melibatkan masyarakat pun dimulai setelah muncul berbagai isu mengenai orangutan yang terusik oleh pembangunan PLTA di Sungai Batangtoru. Sejumlah kalangan tidak setuju dengan adanya pembangunan pembangkit listrik karena menganggap proyek itu bisa mengganggu habitat orangutan. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA