Saturday, 22 Muharram 1441 / 21 September 2019

Saturday, 22 Muharram 1441 / 21 September 2019

Erdogan: Trump Perlu Temukan Jalan Tengah Sanksi Turki

Senin 15 Jul 2019 10:09 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Ani Nursalikah

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Foto: AP Photo/Emrah Gurel
Turki membeli sistem pertahanan rudal S-400 Rusia.

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mempunyai kewenangan menghapus sanksi terhadap Turki. Erdogan mengatakan, Trump harus menemukan jalan tengah dalam sengketa soal sanksi ke Turki atas pembelian sistem pertahanan S-400 Rusia.

Baca Juga

Komentar Erdogan muncul dua hari setelah anggota NATO Turki menerima pengiriman konsinyasi pertama dari bagian sistem pertahanan rudal S-400 Rusia. AS berulangkali memperingatkan langkah Turki itu akan memicu sanksi.

Media Haberturk mengutip Erdogan, mengatakan, sanksi AS dibuat untuk mencegah negara-negara lain membeli peralatan militer Rusia. Erdogan kembali menegaskan Trump memiliki wewenang mengesampingkan atau menunda Countering America's Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA).

"Karena ini masalahnya, Trumplah yang perlu menemukan jalan tengah," kata Erdogan, menurut Haberturk.

Trump sebelumnya, menyatakan simpati terhadap posisi Turki ketika ia bertemu Erdogan pada pertemuan puncak G20 di Jepang bulan lalu. Ia mengatakan, Ankara telah membeli S-400 dari Moskow karena pemerintah AS sebelumnya tidak akan menjual rudal Patriot.

"Saat ini, saya tidak percaya Trump memiliki pendapat yang sama dengan orang-orang di bawahnya dan dia telah mengatakan ini di depan semua media di dunia. Dengan membeli S-400, kami tidak bersiap-siap untuk perang. Kami berusaha menjamin perdamaian dan keamanan nasional kami," kata Erdogan. 

Terlepas dari kata-kata hangat Trump, para pejabat AS mengatakan, pemerintah AS masih berencana menerapkan sanksi. Selain sanksi CAATSA yang terancam, para pejabat AS mengatakan, Turki bisa saja didepak dari program jet tempur F-35 AS, yang berarti tidak akan lagi menjadi bagian dari proses produksi atau dapat membeli jet yang telah dipesan.

Pentagon mengatakan, S-400 Rusia akan menimbulkan ancaman bagi jet jika mereka beroperasi di wilayah yang sama. Namun, Erdogan mengatakan Turki memiliki pesanan lebih dari 100 jenis F-35 sehingga berharap AS tetap berkomitmen pada kesepakatan.

Erdogan juga mengatakan, Turki masih ingin membeli sistem pertahanan rudal Patriot dari Washington. Ia juga menegaskan kedua negara harus bertujuan meningkatkan perdagangan dan bekerja sama pada pertahanan komprehensif.

"Trump selalu memandang ini secara positif. Kini, pada saat kita membahas volume perdagangan timbal balik 75 miliar dolar AS hingga 100 miliar dolar AS, akankah kita berurusan dengan isu ini? Kenapa kita harus? Kami adalah mitra strategis, mari lakukan apa yang diperlukan oleh kemitraan strategis," ujar Erdogan.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA