Sunday, 5 Sya'ban 1441 / 29 March 2020

Sunday, 5 Sya'ban 1441 / 29 March 2020

Erdogan: Pembelian S-400 Bukan untuk Perang

Senin 15 Jul 2019 11:55 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Ani Nursalikah

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melakukan pertemuan di Kremlin, Moskow, Rusia, Senin (8/4).

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melakukan pertemuan di Kremlin, Moskow, Rusia, Senin (8/4).

Foto: Alexei Nikolsky, Sputnik, Kremlin Pool Photo via AP
Menurut Erdogan, S-400 untuk memastikan perdamaian dan keamanan Turki.

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan, kesepakatan pembelian sistem pertahanan S-400 dengan Rusia adalah perjanjian utama dalam sejarah modern Turki. Hal ini, menurutnya, sangat penting bagi hubungan kedua negara.

Erdogan mengatakan membeli S-400 Rusia bukan untuk berperang. Namun, sistem pertahanan rudal ini dimaksudkan untuk memastikan perdamaian dan keamanan di Turki.

"Hari ini, perjanjian paling penting dalam sejarah modern kita adalah kesepakatan S-400. Kami membuat langkah-langkah lain untuk meningkatkan kapasitas pertahanan kita," ujar Erdogan seperti dilansir Tass, Senin (15/7).

Erdogan berjanji kendali atas sistem S-400 akan sepenuhnya dilakukan oleh angkatan bersenjata nasional demi keamanan nasional. Dalam hal ini, Erdogan juga menyinggung masalah pasokan jet tempur generasi kelima F-35 dari Amerika Serikat (AS) sehubungan dengan ancaman Washington untuk menghentikan mereka atas kesepakatan S-400. 

Erdogan mengatakan, kesepakatan S-400 adalah satu topik sendiri, sementara F-35 adalah topik lain. Turki pun sudah membayar 1,4 miliar dolar AS untuk F-35.

Jika Turki dikecualikan dari program F-35, biaya satu pesawat dapat naik dengan tujuh hingga delapan misi. "Ini bukan keputusan yang mudah. ​​(Dalam hal ini), mereka harus membayar kembali jumlah yang telah kita bayar," kata Erdogan.

Pasokan pengiriman sistem pertahanan rudal S-400 Rusia ke Turki dimulai pada 12 Juli 2019. Menurut kementerian pertahanan Turki, tiga pesawat kargo mengantarkan beberapa truk dan sebuah kendaraan pengangkut dan pemuatan untuk sistem S-400 ke Pangkalan Udara Murted.

Baca Juga

photo
S 400 Rudal jarak jauh andalan Rusia.

Pesawat Rusia lain tiba hari berikutnya. Pesawat ketujuh dilaporkan mendarat pada Ahad (14/7).

Media setempat melaporkan pada November 2016, pembicaraan telah berlangsung tentang penjualan sistem S-400 Rusia ke Turki. Rusia juga telah mengonfirmasi kontrak telah ditandatangani pada September 2017. Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar mengatakan, saat itu penyebaran sistem S-400 akan dimulai pada Oktober 2019.

Menurut Rostech, sebuah perusahaan teknologi tinggi milik pemerintah Rusia, Direktur Jenderal Sergei Chemezov menerangkan biaya kontrak sebesar 2,5 miliar dolar AS.

Turki adalah negara anggota NATO pertama yang membeli sistem rudal semacam itu dari Rusia. AS telah berulang kali dengan tegas menggagalkam kesepakatan itu dengan ancaman sanksi. AS juga berulang kali memperingatkan Turki jika membeli sistem rudal Rusia itu tidak akan mendapatkan jet tempur F-35.

Saat ini, Turki telah memerintahkan 30 dari 100 kemungkinan pembelian pesawat tempur F-35 AS, jet tempur multi-peran yang mampu membawa senjata nuklir. Bersama dengan AS, delapan negara, yaitu Australia, Inggris, Denmark, Italia, Kanada, Belanda, Norwegia, dan Turki, ikut serta dalam proyek ini. Lebih dari itu, Israel dan Jepang membeli jet F35.

Triumf S-400 Rusia (nama pelaporan NATO: SA-21 Growler) adalah sistem rudal antipesawat jarak jauh terbaru yang mulai beroperasi pada 2007. Rusia merancang pesawat itu untuk menghancurkan rudal pesawat, jelajah dan balistik, termasuk rudal jarak menengah, dan target permukaan.

Sistem ini dapat mencapai target aerodinamis pada jarak hingga 400 kilometer (249 mil) dan target balistik taktis terbang dengan kecepatan 4,8 kilometer per detik (3 mi/s) pada jarak hingga 60 kilometer (37 mil). Sasarannya meliputi rudal jelajah, pesawat taktis dan strategis, serta hulu ledak rudal balistik.

Smeentara radar sistem mendeteksi target udara pada jarak hingga 600 kilometer (373 mil). Rudal permukaan dari dan ke udara 48N6E3 dari sistem dapat mengenai sasaran aerodinamis pada ketinggian 10 ribu-27 ribu meter dan ancaman balistik pada ketinggian 2.000-25 ribu meter.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA