Sunday, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Sunday, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Pasca-Rekonsiliasi, Rupiah Menguat

Senin 15 Jul 2019 11:18 WIB

Red: Friska Yolanda

Petugas menunjukkan uang rupiah di layanan kas keliling di Monumen Juang, Bandung, Jawa Barat, Selasa (21/5/2019).

Petugas menunjukkan uang rupiah di layanan kas keliling di Monumen Juang, Bandung, Jawa Barat, Selasa (21/5/2019).

Foto: Antara/M Agung Rajasa
Pergerakan rupiah akan dipengaruhi sentimen domestik, yaitu hasil RDG BI.

REPUBLIKA.CO.ID, Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada awal pekan menembus level di bawah Rp 14 ribu per dolar AS pascarekonsiliasi Joko Widodo dan Prabowo Subianto pada Sabtu (13/7). Pada pukul 9.58 WIB, rupiah menguat 59 poin atau 0,42 persen menjadi Rp 13.949 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya Rp 14.008 per dolar AS.

Baca Juga

Analis Bank Mandiri Rully Arya Wisnubroto mengatakan, menguatnya rupiah dipengaruhi faktor eksternal dan pertemuan antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto pascaberakhirnya pilpres. "Penguatan rupiah didorong sinyal dovish the Fed dan kondisi politik domestik yang semakin kondusif," ujar Rully, Senin (15/7).

Pekan ini, lanjut Rully, sentimen dari eksternal terutama Amerika Serikat tidak akan terlalu banyak berpengaruh terhadap nilai tukar karena tidak ada rilis data terbaru. Menurutnya, pekan ini pergerakan rupiah justru akan dipengaruhi sentimen domestik yaitu pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang ditunggu para pelaku pasar.

"Kami perkirakan BI akan cut 25 basis poin jadi 5,75 persen," kata Rully.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Senin ini menunjukkan, rupiah menguat menjadi Rp 13.970 per dolar AS dibandingkan hari sebelumnya di posisi Rp 14.085 per dolar AS.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA