Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Kepada Mathara, dari Ibu

Ahad 26 May 2019 09:03 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Matahari Terbenam (ilustrasi).

Matahari Terbenam (ilustrasi).

Foto: Republika/Yogi Ardhi
Petang mulai menerka angkasa, burung gereja berpulang

Petang mulai menerka angkasa
Burung gereja berpulang, pada anak dan sarangnya
Di tanah seberang, buruh-buruh itu
Mulai meninggalkan rangka
Dari bakal gedung yang akan sungguh megah
Dengan zalimnya menebas

Warung dan omah cilik di sekitar
Terlihat cetakan langkah lelaki itu

Hendak bersinggah pada warungku
Sang warung terkepung
Di antara ramainya pusat Kabupaten
Dan penatnya Bandar Giriwasi
Dari Bandar Giriwasi, lusinan kelasi bersandar
Berpelesir sejenak
Mereka jua lah, singgah ke sang warung
Merayu dan manja padaku

Dalam doaku, pada Gusti
Dan antrean lelaki di batas warung
Semoga malam ini
Rezeki berziarah pada warungku, walau hanya
semalam

Ampuni sahaya, Gusti
Sahaya harus memberi urip
Pada Mathara dan segala napasnya
Tiada lagi mereka menerima karsa sahaya
Telah terhina sahaya, di tanah tinggal sendiri
Dalam ronaku,

Dengan gincu memerah lelah
Terpaksa memancar cerah
Bayangan mata kuning cokelat keemasan
Menutup alur air mata tangisan
Dalam rapuhnya mestika ku
Aku bersua dengan lelaki-lelaki itu
Mulai yang necis hingga beraroma amis
Aku melayani dahaga mereka
Dimulai dengan secangkir kopi tubruk
Ampuni sahaya

Tiada sahaya merela, mestika nan mulianya diri
Berhadapan pada lelaki jalang bermata nanar
Tolong Gusti, pertemukanlah sahaya
Dengan sosok bak Pangeran Diponegoro
Yang memerdekakan sahaya
Dari keangkeran warung ini
Tak selalu bangsa lelaki

Tiap hari, datangnya bala lusinan
Mbok-mbok penjaja simping hingga rajungan
Untuk melepas keringnya lambung, lalu
kerongkongan mereka
Tak pernah sang awak sambat
Sebungkus nasi karak terhantar pada mereka
Tak perlu mereka pusing

Bagaimana sebungkus nasi karak
Ditukar oleh lembaran arta, bawalah saja
Kutambah satu bungkus
Untuk tole, genduk, lalu suami
Kemarilah ke warungku
Sebagai tempat di mana engkau
Dimanusiakan oleh sesamamu
Hingga suamimu terpanggil kembali, oleh Ibu Laut

Pertanda Ikan Manyung
Telah melahirkan berjuta keturunan segar
Mathara, manusia gemar menjejak dan berlalu
Dahulu, bapakmu menjejak pula
Senyap dan meneduhkan
Seakan seluruh Bandar Giriwasi
Takzim menatap romannya
Ibumu begitu lugu, dahulu

Dijanjikan berlayar, ke Tanah Bebian, lalu keliling
dunia
Terlanjur ibu berikan pedalaman ini
Nyatanya, nihil
Tak sampai ibu merasa surga Tanah Bebian,
apalagi dunia lainnya
Jenat nan kaku hati ibu, melebur
Hingga surga itu akhirnya lahir
Itulah dirimu, nak

Surga yang tak diinginkan mereka, hingga bapakmu
Kini ibu rengkuh dengan mudahnya
Ibu masih menunggu bapak
Di amben kecil
Di batas antara warung dan Bandar Giriwasi
Turun dengan gagah dari kapal
Mengajakku dan kau, ke Tanah Bebian, lalu dunia
yang lain
Ah, rasanya nihil dan pengap

Bapakmu telah menyaru dengan ketiadaan
Manusia di sini
Tak jua memanusiakan ibu dan dirimu, nak
Orang kapiran dan hina kita ini
Tetapi mengapa, kini saatnya aku berpongah
Hanya ketika perut mereka layu
Barulah mereka menjadi manusia melas dan asih
Ingin rasanya ibu berkhotbah
Daku masih manusia, kalian bajul buntung, ora
menungsani blas!

Apalah dayaku
Hanya seorang penghibur yang lelah
Untuk Mathara, lelaki-lelaki itu
Kemudian perut-perut kering yang menggeliat
Dalam temaramnya pelita warung
Sang warung merupakan dialek Jawa Gresikan
yang berarti Warung milik saya

Nasi Karak merupakan makanan khas Gresik
yang terdiri dari ketan hitam, srundeng kelapa,
dan tempe goreng tepung
Sang awak sambat merupakan dialek Jawa Gresikan
yang berarti Aku mengeluh

TENTANG PENULIS
EDELIYA RELANIKA PURWANDI, aktif menulis baik fiksi maupun nonfiksi. Karyanya dapat dilihat di sejumlah media massa

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA