Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Desaku Beranda Surga

Selasa 26 Mar 2019 16:03 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Pemandangan pedesaan (ilustrasi)

Pemandangan pedesaan (ilustrasi)

Foto: Antara/Raisan Al Farisi
Desa yang kutinggali kini tak ramah lagi, akibat ulah manusia serakah

Senin 20 November 1995
Tangis seorang bayi terdengar
Telah lahir ke dunia
Seorang laki-laki
Di desa sepi yang hijau akan pepohonan
Pandang mata terlihat pesona nan jelita alam menakjubkan
Pepohonan saling bersahutan seakan bercengkrama dengan suasana

Panorama sejuk dan segar terbalut kenyamanan desa
Sinar mentari itu menembus bilik rumah kecil hingga tersenyum
Kubuka jendela sapa angin pagi
Ringan kumelangkah songsong hidup ini
Hela lenguh lembu halau burung-burung
Bocah tawa riang,
Canda di kali yang jernih

Daun kelapa,
Elok saat melembai
Mengikuti arah angin
Semilir angin yang berhembus,
Bawa dendang pepohonan
Seperti restui para petani
Di desa ini aku dilahirkan dan aku dibesarkan

Bersama waktu iringi langkah kaki
Beriring doa dan sayang dari sang bunda
Dan di bawah didikan bijak dari sang ayah
Di tempat ini aku bermain dan menorehkan banyak sejarah
Di desa kecil tersemai indah cerita berkala

Terasa aku berkelana ke beranda surga
Hingga terucap syukur pada sujudku berkat indahnya desaku
Namun itu dahulu, 20 tahun yang lalu
Sangat berbeda dengan apa yang ada
Tak hijau lagi desaku, tak elok lagi daun kelapaku
Tak riang lagi canda di kali yang jernih

Desa yang kutinggali kini tak ramah lagi
Orang-orang yang lewat, beri senyum pun enggan
Desa sepi kini telah bising akan suara mesin pabrik
Sisakan banyak cerita suka dan duka

Desa nan luas hadirkan tempat bermain
Kini kian sempit karna pembangunan
Sana-sini kulihat bangunan megah entah milik siapa
Ooh desaku malang kini kau telah terkurung perumahan
Tanah kosong tak lagi nampak
Kebun-kebun hilang sisakan banyak kenangan

Isi rimba tak ada tempat berpijak lagi
Punah dengan sendirinya akibat rakus manusia
Kini engkau tak lagi rupawan
Pohon yang menghiasimu telah tumbang

Pemandangan hijau itu berubah perlahan
Akibat ulah manusia serakah
Kejahatan itu telah merenggut indahmu

Desaku menjerit seolah kesakitan
Demi manusia yang menapakinya
Ia ingin kembali indah rupanya
Namun apa daya
Desa kini telah menjadi milik kota.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA