Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Angkringan

Kamis 31 Jan 2019 08:46 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Sego Kucing

Sego Kucing

Foto: Rendra Purnama/Republika
Meski lapar, Gardu memberikan sego kucing ke pengamen. Ia memberikan amal terbaiknya

REPUBLIKA.CO.ID, Cerpen Oleh: Arul Chairullah

‘Sebab aku mengagumi dia, dan dia menyukai malam, maka aku bangun angkringan malam ini untuk dia.’

Desau pohon bambu basah yang beradu dengan tirai kelabu langit, diartikan sebagai cinta malam yang mendalam. Semilir malam dirasakannya sebagai pelukan hangat sang kekasih yang meski tidak selalu bertemu, selalu berciuman, dan selalu bergumul untuk mempersatukan diri, tapi membuatnya saling memikirkan dan saling merindukan. Begitulah cara malam menemaninya selama ini.

Beberapa saat sebelum menjelang tengah malam, dia selalu keluar dari gardu, berjalan mengamati bagaimana bias bulan menyembul dari aspal jalanan, sebelum akhirnya dia memukul kentungan dua belas kali tepat ketika jarum jam berada pada angka dua belas.

“Mas, bungkus sego kucing, lauknya sate usus, sate telur puyuh, berapa?”

Lamunanku terhenti. Astaga, Pak Gardu—sapaan akrabku pada lelaki yang ringkih, kurus, dan tua itu.Wajah lesunya memberitahuku sepertinya dia sudah lama menahan lapar.

“Oiya, sepuluh ribu, Pak.”

Dia merogoh sakunya berkali-kali. Kulihat tangannya menghitung-hitung beberapa lembar uang kertas, kemudian perlahan bergerak dan menyodorkannya kepadaku.

“Kurang dua ribu, Mas.”

“Tidak apa-apa, Pak. Silakan dibawa saja bungkusannya.”

Dia menimang-nimang penawaranku. Kupaksa tangannya menerima bungkusan. Aku tersenyum.

Suwun, Mas.”

Monggo, Pak.”

Dari angkringan sego kucing, kuamati saksama: malamnya mengambang, hambar. Terduduk lunglai di sudut gardu, terkapar. Debu malam, menyesakkan. Sesaknya bersahutan, meruntuhkan. Runtuhnya bersamaan, mematikan.

Aku melihatnya sedikit berbeda. Malam menyapa dengan hujan air mata, isak tangisnya mengguntur bergelegar, menciptakan getaran perpisahan yang merayapi partikel udara hingga denyutannya menggetarkan gardu bambunya.

“Malam, o malam…,” dia mendesah.

Terkadang aku bingung memahami retorika berpikirnya, tapi entah mengapa aku selalu ingin berada dekat dengannya. Meski dia hanya seorang penjaga gardu kamling, dia tetap istimewa. Bukan karena dia kaya harta atau tahta, melainkan cara dia menyikap kejadian, itulah yang membuatku terkesima.

Satu pesan yang kuingat selalu darinya, ‘Tuhan itu seperti guru, Dia akan diam saat ujian berlangsung. Hanya yang berhati tenang yang bisa menyelesaikan ujian dengan sempurna.’

Setelah kupikir, ada benarnya juga perkataannya.

Angkringanku terbilang ramai, walau berada di pojok kampus. Hampir setiap hari sego kucing berbungkus daun pisang itu ludes diborong aktivis malam yang doyan cangkruan, mendiskusikan variasi ujian kehidupan, dari pacar bookingan sampai karut-marut bangsa. Saking seringnya, aku hafal tur obrolan ngalor-ngidul yang selalu selesai tatkala lelaki polos penunggu gardu kamling tadi memukul kentungannya dua belas kali.

Dari pojok kanan angkringan, misalnya, aku akan mendengar orasi ompong mahasiswa dekil berambut kribo. Tanpa peduli dosa, dia pasti akan berkata yang jika kuterjemahkan seperti ini:

“Pemerintah ugal-ugalan, masak tikus dibiarin gerogoti tanaman di ladang, sudah gitu tikusnya sekongkol sama marmut. Namanya juga marmut, ditikung tikus ya plonga-plongo. Semuanya dimalingi, dari kartu identitas pribadi sampai urusan makar dipolitisasi. Rakyat jelata kayak kita ini cuma diamplopi janji untuk kemudian dikebiri setelah mereka terpilih.”

Dari pojok kiri angkringan, aku disuguhi sajak cinta-derita. Permainan diksi katanya mampu membuatku terhuyung dan menghempas di kursi tua.

Cinta.
Cinta dikata derita
Derita dikata cinta
Cinta cinta bilang derita
Derita derita bilang cinta
Mau cinta? Bilang derita
Mau mau bilang cinta
Mau derita? Bilang cinta
Mau mau bilang derita
Ya cinta, ya derita                  
Ya derita, ya cinta
Tak ya cinta, tak ya derita
Ya tak derita, ya tak cinta
O Anisa.
Hanya cintaku, Anisa.
Begitulah kira-kira suasana berisik mengantar malam yang semakin larut.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA