Selasa, 12 Rajab 1440 / 19 Maret 2019

Selasa, 12 Rajab 1440 / 19 Maret 2019

Hujan Telah Mencuri Ibu Dariku

Selasa 19 Feb 2019 09:26 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Ibuku

Ibuku

Foto: Republika
Hujan kini terus mengingatkan aku pada ibu

REPUBLIKA.CO.ID, Cerpen Oleh: Kristin Fourina

Setiap melintasi pertigaan yang menuju ke arah Bukit Juring, aku terserang sakit kepala. Andai kata perempuan gila itu tidak berada di bawah pohon randu yang berada di pinggir jalan. Ya, jika saja ia tidak menyandarkan tubuhnya yang kumal di batang pohon randu itu, aku tak akan terserang sakit kepala sedahsyat ini.

Beberapa hari lalu aku baru saja pulang dari luar kota. Dan aku menginap di rumah Mbakyu (kakak perempuan) yang berada agak jauh dari Bukit Juring. Kadang-kadang aku masih menyayangkan bencana tanah longsor yang secara tiba-tiba melahap rumah ibu kami.

Seperti puluhan banteng yang sedang adu lari, tiba-tiba saja Bukit Juring yang berada di belakang rumah ibu berlarian ke bawah dan terus menanduk rumah-rumah yang berada di bawahnya.

Ya. Mengapa pohon-pohon randu itu membiarkan tanah yang menimbunnya longsor dan mengeluarkan suara gemuruh yang mengoyak? Mengapa pohon-pohon randu itu tak berusaha menyelamatkan satu saja rumah yang dinaunginya, yakni rumah ibu?

Jika aku berlari di atas timbunan tanah Bukit Juring yang mengoyak rumah ibu, tanpa sengaja bibirku selalu memanggil ibu. Dan wajah ibu akan muncul setiap kali aku memanggilnya.

Setelah semua perkataan kasar yang kuucapkan kepada ibu. Hampir setiap hari selama sepekan, sebelum akhirnya aku memutuskan pergi kembali ke luar kota, ibu menerima seluruh perkataan kasarku. Ketika pagi itu aku pergi, meninggalkan ibu dan hujan deras yang mengembus dedaunan jati.

Ya. Hujan yang kini terus mengingatkan aku pada ibu. Dan rupanya hujan itu telah mengambil ibu dengan kasar pula.

Kembali mengingat ibu, kembali mengingatkanku pada kebodohanku. Akulah anak yang tidak berguna. Dengan jijik aku menghardik ibu atas penyakitnya yang kambuhan.

Mengapa aku bisa sebodoh itu pergi meninggalkan ibu hanya karena ibu berpenyakit yang membuat calon istri dan mertuaku risih. Kami pulang setelah kami gagal meminang calon istriku karena tiba-tiba saja penyakit ibuku kambuh. Aku tak tahu, tiba-tiba saja ibu jatuh dari kursi, menggelepar-gelepar di lantai dan mulutnya mengeluarkan busa.

Paling tidak, setelah keadaan ibu bisa diatasi, sebuah langkah mundur telah diambil oleh keluarga calon istriku. Telingaku hampir patah mendengar keputusan keluarga calon istriku saat itu.

Apakah aku telah kehilangan akal sehat? Ketika hujan telah dengan tiba-tiba mengambil ibu, barulah aku yakin aku telah menjadi setan kecil yang durhaka pada ibu. Hujan telah mencuri ibu dariku.

Saat aku kembali ke rumah ibu dan mencarinya, kulihat Mbakyu sedang menangis histeris di tengah hujan deras. Air matanya bercampur dengan air hujan yang melongsorkan bukit Juring dan menimbun rumah ibu.

Cerita-cerita kemudian berkembang, tetapi kami tetap belum menemukan ibu dalam timbunan tanah berlumpur itu. Aku bahkan selama beberapa saat hanya berdiri mematung menatap rumah ibu yang hilang.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA