Tuesday, 20 Zulqaidah 1440 / 23 July 2019

Tuesday, 20 Zulqaidah 1440 / 23 July 2019

Apakah Menjadi Teroris Itu Status Seumur Hidup?

Jumat 12 Jul 2019 05:37 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Penangkapan tersangka tindak pidana terorisme (ilustrasi)

Penangkapan tersangka tindak pidana terorisme (ilustrasi)

Foto: republika
Menjadi teroris itu tidakdilakukan seumur hidup.

Oleh: DR Nur Huda Ismail, Pengamat terorisme dan alumni Universitas Monash Australia.

''Why Second Chance Matters (Apakah ada kesempatan kedua)? Salah satu audience dari Universitas Indonesia bertanya kepada saya dalam diskusi kemarin sore di Tempo.

“Dan juga adakah jaminan bahwa para mantan (baik itu narapidana teroris dan alumni ISIS) ini tidak akan kembali ke ideologi lama mereka?,'' tanya audiens dari UI itu kembali.

Mendengar itu saya kemudian menjawab ringan dengan kenyataan sehari-hari: ”Secara singkat saya jawab bahwa (tak hanya teroris) juga tidak ada jaminan kita tidak balikan lagi kepada mantan pacar kita jika kita tidak mendapatkan cinta yg kita harapkan dari pasangan kita.

Maka, menjadi teroris itu butuh sebuah proses dan bukan sebuah profesi abadi. Nah, jika ada yang ingin pensiun jadi teroris terus tidak mendapatkan kesempatan kedua, bukan tidak mungkin mereka akan kembali lagi ke dunia lama merekakan?

Biasanya di dunia mana pun identitas diri itu cair. Ia bisa berubah-ubah tergantung lingkungan. Identitas itu juga tidak tunggal. Kita bisa menjadi seorang anak, orang tua, suami, istri, dosen, karyawan, pengusaha, penulis dan lain-lain.

Mungkin dalam proses pencarian identitas diri mereka itu sempat “terpesona” menjadi teroris. Namun, teroris itu juga manusia (kayak rocker yang juga manusia) yang bisa berubah identitas diri kan?

Ketika mereka “berubah”, pengalaman menjadi dan meninggalkan dunia teroris itu bisa menjadi pelajaran bagi para “calon” teroris untuk memikirkan ulang niatnya itu. Itulah kenapa saya bersama teman membuat inisiatif baru untuk mewadahi kisah-kisah mereka itu. Sebab, menjadi teroris itu seperti naik tangga dan penyebabnya bukan karena agama, melainkan karena proses sosial dan politik perjumpaan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA