Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Seberapa Moncer Ekonomi AS?

Kamis 11 Jul 2019 09:08 WIB

Red: Elba Damhuri

Televisi di Bursa Saham New York menunjukkan pengumuman ditahannya suku bunga acuan oleh bank sentral AS The Federal Reserve. The Fed mempertahankan suku bunga pada 2,25 persen hingga 2,5 persen.

Televisi di Bursa Saham New York menunjukkan pengumuman ditahannya suku bunga acuan oleh bank sentral AS The Federal Reserve. The Fed mempertahankan suku bunga pada 2,25 persen hingga 2,5 persen.

Foto: AP Photo/Richard Drew
Seolah AS berpesta di atas derita warga dunia lain yang ekonominya masih terpuruk.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Tri Winarno, Pengamat Kebijakan Ekonomi

Ekonomi Amerika Serikat (AS) sedang moncer-moncer-nya di tengah ekonomi global yang tersendat. Seolah AS berpesta di atas derita warga dunia yang lain. Warga AS sedang bersenandung riang tatkala di jalanan London saling bertikai antara yang pro dan anti dengan Brexit.

Di jalanan Paris, kelompok rompi kuning meneriakkan yel-yel anti-Emmanuel Macron dan di Cina berkembang kekhawatiran yang mendalam tentang merosotnya pasar saham Huawei.

Tahun lalu, ekonomi AS tumbuh 2,9 persen tatkala Uni Eropa hanya ekspansi 1,8 persen. Tahun ini, ekonomi AS diproyeksikan akan tumbuh di atas 3,1 persen. Dengan tingkat pengangguran hanya 3,6 persen, upah riil pekerja di AS meningkat 1,6 persen.

Prestasi ekonomi AS tahun ini dipastikan semakin mengilap. Dengan kekuatan ekonomi AS itu, Presiden Donald Trump semakin yakin dengan langkah dan kebijakannya selama ini. Kebijakannya yang konfrontatif, seolah semakin mendapatkan pembenaran.

Namun, penguatan pertumbuhan ekonomi AS di tengah ekonomi global yang melambat adalah di luar dari buku teks ekonomi. Mengingat dunia yang semakin terintegrasi seharusnya tatkala ekonomi global melempem, ekonomi AS selayaknya juga memble.

Lantas, apa yang menyebabkan euforia ekonomi AS saat ini? Yang jelas, euforia ekonomi AS itu tidak terkait banyak dengan kebijakan Trump, kecuali ada kontribusi penurunan pajak tahun sebelumnya yang efek positifnya sudah memudar.

Namun, bersinarnya ekonomi AS saat ini karena tingkat bunga rendah di AS dan belahan dunia lain. Biaya pinjaman di AS jauh lebih rendah dibandingkan sebelumnya sejak berdirinya bank sentral AS (Federal Reserve) pada 1913, bahkan sejak berdirinya BOE (Bank of England) pada 1694.

Imbal hasil obligasi Pemerintah AS tenor 10 tahun hanya di kisaran 2,123 persen dan pada April kemarin, perusahaan jasa streaming Netflix, menerbitkan obligasi yang terkategori sampah hanya dengan imbal hasil 5,4 persen.

Seandainya ekonom Rip Van Winkle bangkit dari tidur yang sangat panjang dan melihat angka-angka indikator keuangan AS saat ini, dia akan menyimpulkan, seperlima dari penduduk AS menganggur dan mengantre di dapur umum hanya berharap semangkuk bubur panas seperti pada resesi 1929.

Padahal kenyataannya, tingkat pengangguran AS saat ini terendah sejak tersiarnya Neil Armstrong menapakkan kakinya di bulan, 50 tahun yang lampau. Bagaimana ekonomi AS bisa cemerlang begitu di tengah ekonomi global yang stagnan?

Kalau para pengikut Marxist pada hari ini berdiskusi, dipastikan mereka akan frustrasi melihat sistem kapitalis begitu kuat pembenarannya. Namun, moncer-nya ekonomi AS tersebut, tak terkait ideologi kapitalis.

Namun, semata-mata sekarang ini ekonomi AS diuntungkan tingkat bunga global yang sangat rendah terkait pertumbuhan ekonomi di luar AS yang melambat. Bandelnya tingkat bunga rendah dan inflasi yang melemah memberikan kemanfaatan berlipat pada AS.

Pertama, konsumen AS yang upah riilnya menguat setelah selama satu dasawarsa stagnan, mempunyai daya tawar yang semakin meningkat. Warga AS yang kini menginginkan Iphone seri terbaru akan ditawari pembiayaan dengan tingkat bunga nol persen.

Begitu pula, dengan diler-diler mobil, menawarkan pembiayaan dengan bunga nol persen sehingga konsumsi warga AS mendorong pertumbuhan PDB-nya lebih kuat lagi. Di sisi lain, moncer-nya pasar saham AS sangat terkait rendahnya bunga tabungan.

Tatkala 1970, penabung mendapatkan bunga enam persen, ditambah bonus berbagai produk elektronik, seperti blender, setrika, dan lollipop. Sekarang, boro-boro dapat bonus, penabung untuk certificates of deposit (CDs) tenor enam bulan hanya mendapatkan bunga sepertiga persen.

Bagi pengusaha, rendahnya tingkat bunga berdampak pada peningkatan investasi dan ekspansi usaha yang dapat digunakan untuk pembelian peralatan produksi baru, bahkan dengan skema hampir “free financing” jika untuk pembelian alat produksi.

Akibat rendahnya biaya pinjaman dan keringanan pajak, perekonomian AS pada 2018 menambah tenaga kerja baru di sektor manufaktur sebanyak 215 ribu orang.
Investor asing menyadari, peralatan produksi baru itu dipastikan membuat perusahaan AS semakin kompetitif. Kondisi ini terlihat seperti anomali. Dan berdasarkan buku teks, melemahnya ekonomi global akan menekan ekspor AS.

Itu benar, apalagi kalau dikaitkan dengan kebijakan tarif terbaru oleh Cina pada barang-barang AS dan menguatnya dolar terhadap sebagian besar mata uang kuat dunia lainnya, yang membuat ekspor barang AS semakin mahal di pasar internasional.

Namun perlu diingat, ekonomi AS itu domestic driven economy, yang tak terlalu bergantung pada pasar global. Ekspor AS hanya 12 persen dari total PDB-nya dan hampir 40 persen ekspor AS menuju pasar Kanada dan Meksiko yang ekonominya kini relatif membaik.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA