Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Kemelun Asap (Cerita Pendek)

Kamis 11 Jul 2019 08:30 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Kemelun Asap

Foto:
Kau akan dibakar di neraka nanti kalau tidak mengaji

Perempuan itu memasukkan segenggam batang ranting kalendra kering ke dalam mulut tungku. Tungku itu memiliki dua lubang tatakan untuk memasak di atasnya. Suaminya membuat tungku itu bertahun-tahun yang lalu, tepatnya seminggu sebelum pernikahan mereka.

Delapan bulan kemudian, ketika janin dalam rahimnya baru menginjak usia empat minggu, tungku itu dipensiunkan. Pemerintah membagi-bagikan kompor gas dan tabung elpiji tiga kilogram gratis.

“Pemerintah kali ini memang perhatian sama rakyat kecil ya,” kata suaminya waktu itu. Ia tersenyum seraya mengelus-elus perutnya yang belum tampak membuncit.

Namun, beberapa tahun kemudian, tabung elpiji tiga kilogram menjadi langka di desa mereka. Suaminya telah menjelajahi setiap warung di sana. Bahkan hingga ke desa sebelah. Namun, semua pedagang hanya menjawab lirih, “belum ada kiriman.”

Pada waktu itulah, suaminya berkata, “mungkin sudah waktunya kita menggunakan kembali tungku itu.”

Perempuan itu menggunakan sehelai kertas untuk menyulut api dari korek. Lantas menjejalkan kertas yang terbakar tersebut ke dalam mulut tungku, tepat di bawah tumpukan batang ranting kering kalendra yang ia kumpulkan dari bantaran Kali Baya. Kemelun asap mengepul dari tungku itu, menerobos melalui mulut dan lubang tatakan sebelah belakang yang tidak menyangga apa-apa.

Perempuan itu meniup mulut tungku. Menghalau asap agar ia bisa memastikan bahwa api telah menyala dengan sempurna seperti yang ia ingini. Setelahnya, ia memeriksa dandang yang ia taruh di lubang tatakan sebelah depan.

“Bu…” ia mendengar suara kecil dari belakang. Ia menoleh. Anaknya mengucek-ngucek mata.

“Kau sudah bangun, Nak?”

***

Ia sedang menunggu bus sewaktu didengarnya teriakan itu. “Copet… copet…”

Ia menoleh ke sumber suara. Ia melihat sejumlah orang berlari ke arahnya. Ia tersentak. Ia menoleh ke arah sebaliknya—kanan tubuhnya, berupaya mengidentifikasi siapa yang disebut copet dan siapa yang dituju oleh sejumlah orang yang kelihatan marah itu.

Ia melihat orang-orang di sisi kanannya itu juga menatapnya. Ia rikuh. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Dalam kebingungan itu, ia mendapati dirinya tiba-tiba telah berlari.

Ia baru berlari sejauh empat puluh meter ketika kaki kanannya terantuk sesuatu. Kaki kirinya sendiri. Ia terjerembap dengan wajah lebih dulu membentur paving. Ia berupaya bangkit. Dan, pada saat itulah, kerumunan orang-orang marah telah sampai di tempatnya jatuh. Mengerubungnya. Lantas seseorang menendangnya.

“Ini copetnya!”

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA