Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

OJK: Banyak Permintaan Reksa Dana Syariah Efek Luar Negeri

Kamis 11 Jul 2019 05:25 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Nidia Zuraya

Petugas melayani nasabah di stan Danareksa Syariah, Jakarta, beberapa waktu lalu. Dana kelolaan reksadana syariah tercatat terus bertumbuh.

Petugas melayani nasabah di stan Danareksa Syariah, Jakarta, beberapa waktu lalu. Dana kelolaan reksadana syariah tercatat terus bertumbuh.

Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Per Juni 2019, jumlah dana kelolaan reksa dana syariah mencapai Rp 33,06 triliun

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Reksa dana syariah efek luar negeri cukup diminati para pelaku industri maupun masyarakat. Kepala Bagian Hubungan Kelembagaan dan Informasi Pasar Modal Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dien Sukmarini menyampaikan volume kelolaannya terbesar kedua setelah reksa dana pasar uang dan saham.

"Reksa dana efek luar negeri itu tertinggi kedua, paling tinggi setelah reksa dana saham," kata dia di kawasan Kebayoran, Jakarta Selatan, Rabu (10/7).

Menurut catatan OJK per Juni 2019, jumlah dana kelolaan reksa dana syariah mencapai Rp 33,06 triliun dari 256 produk reksa dana. Tertinggi reksa dana syariah saham sebanyak 63 produk dengan NAB sebesar Rp 8,5 triliun.

NAB terbesar kedua yakni reksa dana syariah efek luar negeri sebesar Rp 8,42 triliun. Meski demikian, jumlah produknya jauh lebih kecil yakni 11 produk. Dien menyampaikan hal ini karena harganya cukup tinggi.

"Untuk masuk itu harus minimum 10 ribu dolar AS," kata dia.

Itu sebabnya investor produk ini mayoritas berasal dari kelompok besar seperti korporasi atau instansi. Jumlah investor ritel untuk reksa dana syariah efek luar negeri tetap ada namun rendah.

Dien mengakui OJK memang belum melakukan riset mendalam terkait peminat reksa dana syariah efek luar negeri. Namun menurutnya, cukup banyak permintaan untuk produk reksa dana efek syariah luar negeri terutama dari Asia Pasifik dan Amerika Serikat.

Meski OJK membebaskan pada Manajer Investasi (MI) untuk pembuatannya. Ia mengatakan lahirnya produk reksa dana juga tergantung pada pasar yang hendak disasar MI.

"Kita bebaskan saja pada industri, meski banyak yang berminat juga setelah jenis pasar uang," katanya.

Kelompok pasar uang laku di pasar karena tergolong rendah risiko, sesuai dengan profil investor Indonesia yang masih pemula. Ini juga menjadi alasan terciptanya produk reksa dana yakni minat pasar.

Per Juni 2016, jumlah reksa dana pasar uang sebanyak 51 produk dan NAB sebesar Rp 3,82 triliun. Reksa dana pendapatan tetap pun termasuk risiko rendah sehingga cukup banyak diminati.

NABnya sebesar Rp 5,84 triliun dengan jumlah reksa dana 37 produk. Diikuti oleh reksa dana syariah campuran sebesar Rp 3,67 triliun dengan 26 produk, reksa dana syariah terproteksi sebesar Rp 1,5 triliun dengan jumlah 50 produk.


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA