Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

ESDM Dorong Sawit Jadi Energi Ramah Lingkungan

Rabu 10 Jul 2019 14:43 WIB

Rep: Muhammad Nursyamsyi/ Red: Gita Amanda

Pekerja mengangkut kelapa sawit kedalam truk di Perkebunan sawit. (ilustrasi)

Pekerja mengangkut kelapa sawit kedalam truk di Perkebunan sawit. (ilustrasi)

Foto: Antara/Budi Candra Setya
Kementerian ESDM meluncurkan road test penggunaan bahan bakar B30.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Pembinaan Usaha Hilir Migas, Kementerian ESDM, Muhammad Rizwi Jinalisaf Hisjam, mengatakan, pemanfaatan kelapa sawit sebagai sumber Bahan Bakar Nabati (BBN) semakin masif digalakkan. Rizwi menyampaikan Kementerian ESDM telah meluncurkan road test penggunaan bahan bakar B30 (campuran biodiesel 30 persen pada bahan bakar solar) pada kendaraan bermesin diesel, yang akan mulai diimplementasikan untuk transportasi pada 2020 mendatang.

Rizwi mengutip data United States Department of Agriculture (USDA) yang mencatat, sejak 2015, Indonesia merupakan negara penghasil terbesar sawit dengan presentase 54 persen dari produksi dunia, yakni sekitar 32 juta metrik ton per tahun, diikuti oleh Malaysia.

"Indonesia dan Malaysia mengusai market share kelapa sawit dunia sebesar 84 persen," ujar Rizwi dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id di Jakarta, Rabu (10/7).

Rizwi menambahkan, kebijakan mandatori biodiesel yang telah dicanangkan pemerintah sejak Agustus 2015 sangat bermanfaat. Kata dia, kebijakan tersebut telah berhasil menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 13,6 juta ton CO2e, meningkatkan demand terhadap CPO, penggunaan biodiesesl dari sawit sebesar 9,12 juta KL, pajak yang dibayarkan kepada negara Rp 2,47 trilliun, dan penghematan devisa akibat tidak perlu impor solar hingga Rp 51,5 trilliun.

Rizwi menyebut implementasi B20 justru memberikan manfaat dari sisi performa kendaraan. "Manfaat dari B20 secara bahan bakar performanya lebih bagus. Secara kelemahan, nilai kalornya dari BBN ini lebih rendah dari BBM, tapi secara performa bahan bakar lebih bagus. Secara umum, benefitnya lebih banyak," kata Rizwi.

Setelah B20, lanjut Rizwi, pemerintah juga serius mengembangkan B30, di mana pemerintah telah meluncurkan road test B30 dengan memberangkatkan tiga unit truk dan delapan unit kendaraan penumpang berbahan bakar B30 yang masing-masing akan menempuh jarak 40 ribu dan 50 ribu kilometer (km). Hal ini sebagai bagian promosi ke masyarakat bahwa B30 memiliki performa yang baik dan ramah lingkungan.

"Kenapa kita mau mengembangkan terus B30 hingga ke B100? B100 ini ked epannya bukan artinya seluruhnya B100 dari BBN, tapi bahan bakunya menjadi bahan baku refinery. Jadi solar dicampurnya langsung di bahan bakunya. B20, B30 itu campuran dua produk akhir yaitu FAME dicampur BBM Solar. Kalau B100 bahan bakunya yang dicampur dengan crude oil di proses di refinery, dan sudah ada campuran BBN di situ," ucap Rizwi.

Kepala Pengembangan Biodisel BPDP KS Muhammad Ferrian mengatakan proses pemanfaatan CPO untuk biodiesel ini, di mana CPO dari bahan baku kelapa sawit, Bahan Bakar Nabatinya itu bahan bakunya CPO kemudian diproses lebih lanjut (transeksterifikasi) menjadi komponen Faty Acid Metil Ester (FAME).

"FAME ini punya sulfurnya sangat rendah, bahkan tidak ada. Padahal kalau menghilangkan sulfur di minyak bumi perlu proses teknologi yang tinggi. Kalau BBN sulfurnya bisa dikatakan 0 persen sehingga lebih ramah lingkungan," kata Ferrian.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA