Sunday, 23 Muharram 1441 / 22 September 2019

Sunday, 23 Muharram 1441 / 22 September 2019

IPB Promosikan Inovasinya ke Perusahaan Kelapa Sawit

Rabu 10 Jul 2019 07:16 WIB

Red: Irwan Kelana

Rektor IPB, Dr Arif Satria.

Rektor IPB, Dr Arif Satria.

Foto: Dok IPB
Inovasi yang diciptakan oleh IPB University diminati banyak perusahaan.

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- IPB University kembali mempromosikan inovasi pertanian kepada sejumlah perusahaan kelapa sawit di Indonesia. Kali ini, buah karya yang dipromosikan adalah “Precipalm.”

Precipalm merupakan sebuah sistem yang memberikan rekomendasi pemupukan  Nitrogen Phospat Kalium (NPK) pada tanaman kelapa sawit lewat citra daun. Dengan pemodelan matematis yang memanfaatkan band warna pada citra satelit, petani kelapa sawit dapat mengetahui tingkat kesuburan tanah dan tanaman. 

Rektor IPB University, Dr  Arif Satria mengaku senang karena inovasi yang diciptakan oleh IPB University diminati banyak perusahaan. “Saya senang, karena semakin banyak mitra yang memanfaatkan inovasi IPB University maka itu semakin bagus. Berarti inovasi yang telah dihasilkan IPB University ada added value  (nilai tambah) yang bisa kita sematkan kepada mitra. Sehingga, beberapa inovasi teknologi IPB University bisa dimanfaatkan untuk kemajuan industri pertanian,” tutur Dr.Arif dalam sambutannya saat penjajakan kerja sama aplikasi pertanian presisi, di Ruang Sidang Fakultas Teknologi Pertanian, Kampus Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Selasa (2/7).

Teknologi Precipalm, lanjut Dr  Arif, tidak hanya untuk PT Perkebunan Nusantara (PTPN), tetapi untuk perusahaan swasta dan masyarakat umum. Hal ini karena teknologi Precipalm dapat menghemat biaya pemupukan pada kelapa sawit sekitar 10-15 persen. 

“Kalau kita bisa menghemat pupuk sebesar 10 sampai 15 persen, biaya pupuk bisa ditekan sebesar Rp 400 miliar rupiah, angka ini lumayan besar. Kuncinya kan pada pupuk, kalau pupuk berhenti ya sudah, nutrisi untuk tanaman tidak ada,” tambahnya seperti dikutip dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Selasa (9/7).

Terkait perkembangan teknologi 4.0, Arif memperingatkan supaya Indonesia jangan sampai ketinggalan dengan Afrika. 

“Teknologi 4.0 itu sudah lama diterapkan di berbagai tempat di Afrika.  Saat ini Afrika menjadi sasaran untuk pengembangan teknologi 4.0 sampai-sampai perhatian dunia tertuju pada Afrika. Kalo kita lambat sedikit dalam menginovasi teknologi di Indonesia maka kita akan ketinggalan dari Afrika,” ungkapnya.

Selain mengembangkan teknologi Precipalm, saat ini IPB University sedang mengembangkan teknologi integrated smart pest management, teknologi penyemai, pemupukan, dan monitoring pada pertanaman. 

Dengan bergabungnya PT Solusi Mitra Andalan dan PT  Eagle High Plantation dengan IPB University, Arif berharap, semakin banyak inovasi teknologi pertanian yang dihasilkan. Di sisi lain, dengan bergabungnya perusahaan dengan akademisi, maka inovasi yang dihasilkan lebih sesuai dengan kebutuhan di lapangan. 

“Dengan bergabungnya dunia usaha, maka inovasi yang dihasilkan di kampus ini tidak biasa-biasa saja, tetapi menjadi luar biasa dan lebih efektif. Karena ide inovasi dari dunia usaha berdasarkan persoalan yang ada di lapangan, sedangkan kalau dari kampus, biasanya idenya hanya imajinasi, sehingga inovasi yang dihasilkan kadang tidak sesuai dengan kebutuhan di lapangan,” pungkas Dr  Arif Satria.

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA