Thursday, 15 Jumadil Akhir 1442 / 28 January 2021

Thursday, 15 Jumadil Akhir 1442 / 28 January 2021

AS-Taliban Lanjutkan Dialog Akhiri Perang di Afghanistan

Selasa 09 Jul 2019 14:49 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Ani Nursalikah

Pasukan keamanan Afghanistan memeriksa lokasi serangan bunuh diri Taliban di kantor lembaga bantuan AS di Kabul, Afghanistan, Rabu (8/5).

Pasukan keamanan Afghanistan memeriksa lokasi serangan bunuh diri Taliban di kantor lembaga bantuan AS di Kabul, Afghanistan, Rabu (8/5).

Foto: AP Photo/Rahmat Gul
Taliban diminta tidak menggunakan Afghanistan sebagai markas teroris.

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL -- Pejabat pemerintah Amerika Serikat (AS) dan Taliban akan melanjutkan pembicaraan di Qatar untuk membahas upaya mengakhiri perang selama 18 tahun di Afghanistan. Pertemuan ini dilakukan beberapa jam setelah warga sipil dan milisi Afghanistan sepakat menghentikan perang yang memakan banyak korban jiwa itu.

Salah satu pejabat mengatakan AS dan Taliban semakin dekat menuju kesepakatan yang diharapkan dapat membuat AS menarik pasukannya, Selasa (9/7). Syaratnya, Taliban tidak menggunakan Afghanistan sebagai markas teroris.

Walaupun perjanjian damai dapat membuat AS mengakhiri perang terpanjang mereka. Tapi tidak ada jaminan pasukan pemerintah Afghanistan yang didukung AS dapat berdamai dengan Taliban.

Taliban menolak bernegosiasi dengan pemerintah Afghanistan yang mereka anggap sebagai boneka AS. Tapi rekonsiliasi semakin dimungkinkan setelah perwakilan 60 warga sipil bertemu dengan Taliban dalam pembicaran selama dua hari di Qatar.

Kedua belah pihak mengeluarkan pernyataan bersama. Mereka mengatakan kedua belah pihak sepakat berkomitmen menghargai dan melindungi martabat rakyat, nyawa dan properti mereka dan untuk meminimalisasi korban jiwa sampai nol.

Pernyataan ini dirilis beberapa hari setelah anggota Taliban meledakkan bom mobil di dekat kompleks departemen pertahanan Afghanistan di Ghazni. Ledakan tersebut menewaskan 14 orang dan melukai lebih dari 100 lainnya, termasuk beberapa anak yang bersekolah di dekat lokasi kejadian. 

Kedua belah pihak berjanji menjamin keamanan di institusi publik seperti sekolah, rumah sakit dan pasar. Menurut PBB ada 3.804 warga sipil termasuk lebih dari 900 anak-anak tewas dan 7.000 orang terluka selama 2018.

Tahun tersebut menjadi tahun paling mematikan untuk warga sipil sepanjang perang yang dimulai pada 2001 itu. Saat ini Taliban mengusai banyak wilayah.

Pada pekan lalu, ketua negosiator AS Zalmay Khalilzad mengatakan pertemuan terakhir antara AS dan Taliban yang dimulai pada 29 Juni menjadi sesi yang paling produktif sejak ia memulai proses perdamaian pada tahun lalu.

"Perundingan putaran ketujuh akan terus berjalan sampai kedua belah pihak mendapatkan kesepakatan yang jelas, tahapan sekarang ini sedang mengatur penyelesaian politik antara AS dan Taliban, kami mengharapkan AS dapat mengumumkan penarikan pasukan sesegera mungkin," kata Khalilzad.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA