Friday, 4 Rajab 1441 / 28 February 2020

Friday, 4 Rajab 1441 / 28 February 2020

Keadilan, Zonasi dan Anak-Anak Sekitar Sekolah

Selasa 09 Jul 2019 00:11 WIB

Red: Joko Sadewo

Ichsan Emrald Alamsyah

Ichsan Emrald Alamsyah

Foto: Republika/Kurnia Fakhrini
Zonasi menjadi keadilan seluruh anak bangsa?

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Ichsan Emrald Alamsyah*

Zonasi demi keadilan seluruh anak bangsa. Itu kata-kata yang terucap atau minimal penulis padatkan dari sekian panjang ucapan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kita Muhadjir Effendy.

Bertolak belakang dengan kalimat itu, zonasi menjadi kata menakutkan bagi sebagian orang tua khususnya di Pulau Jawa. Terbayang dari beragam narasi yang kita baca di media cetak atau daring, betapa pusing, melelahkan dan takutnya orang tua gagal memasukkan anak ke sekolah favorit. Kita, para orang tua pasti ingat betul betapa bangga dan prestige-nya masuk sekolah unggul.

Namun mendengar kata adil dan zonasi, penulis jadi teringat kala SMA dahulu tepatnya di pertengah tahun 2000. Di dalam tulisan ini, penulis ingin bercerita sedikit apa yang ada di dalam benak selama ini. Inipun murni hanya apa yang ada di dalam benak penulis dan bukan pengalaman orang lain.

Penulis adalah lulusan SMAN 12 Jakarta angkatan 2003. Sebelumnya target penulis tak muluk-muluk hanya ingin bersekolah di SMA negeri yang dekat dengan rumah yaitu SMAN 103 Jakarta. Bagi penulis sekolah dekat rumah banyak keuntungannya, berangkat bisa lebih lambat dan pulang lebih cepat. Walkable-lah kalau kata anak zaman sekarang.

Alhamdulillah-nya, Nilai Ebtanas Murni (NEM) cukup baik, sehingga penulis disarankan guru SLTP ketika itu mengisi salah satu tujuan sekolah ke SMU 12. Keputusan ini ternyata menjadi hal paling penting yang pernah penulis lakukan. Alasannya karena penulis mendapatkan guru yang menyenangkan, sahabat yang tak pernah putus memanggil untuk bersilaturahim, dan pasangan hidup yang berasal dari SMU 12 (atau SMA, SMAN atau apalah terserah pemerintah).

Di era awal 2000-an kala itu, sekolah yang berada di Jl Pertanian Klender No 9 ini, daerah sekitarnya disebut Kebon Singkong, sebagian warga yang tinggal di sana, hanya dari pandangan mata, berasal dari kalangan menengah dan menengah bawah.

Kawasan ini dahulu termasuk padat penduduk dengan gang-gang sempit di kanan dan kiri jalan. Seorang teman SLTP penulis, ketika bertemu di Velodrome Rawamangun, misalnya, ketika itu menyebut kawasan sekitar SMA 12 sebagai Bronx. Istilah Bronx merujuk kepada wilayah tempat hal-hal negatif terjadi. Istilah ini mengacu pada daerah Bronx yang terletak di ujung Pulau Manhattan, New York, Amerika Serikat.

Tapi jangan salah, setahu penulis tidak pernah ada anak sekolah kami yang sampai diganggu penduduk setempat atau istilah dipalak. Apalagi bila ada tawuran di jalan besar, warga melindungi kami bagaikan anak mereka sendiri. Mereka takkan membiarkan kami keluar Kebon Singkong sebelum tawuran itu reda.

Cuma tetap saja ada yang merasuki benak penulis ketika bersekolah di sana, terutama di tahun kedua bersekolah di sana. Penulis mendapati hampir tidak ada murid yang berasal dari wilayah Kebon Singkong tempat SMAN 12 ini berada. Hampir tidak ada dalam artian murid yang berasal Kebon Singkong hanya bisa dihitung dengan jari.

Akan tetapi hal berbeda penulis dapatkan ketika berkawan dengan seorang teman dari SMAN 21, Kelurahan Kayu Putih, Pulo Gadung, Jakarta Timur. Wilayah sekitarnya disebut kawasan perumahan Pulomas. Kebetulan kawan penulis tinggal di wilayah Pulomas, begitu juga dengan sebagian kawan-kawannya yang bersekolah di SMAN 21.

Dalam pola pikir yang masih prematur kala itu, tidak ada jawaban memuaskan yang pernah penulis dapat. Sehingga dengan pola pikir tersebut, penulis berkesimpulan tingkat pendidikan dan kecerdasan berbanding lurus dengan kondisi keuangan orang tua seorang siswa.

Artinya kalau anda kurang mampu ya masuk SMAN yang tak bagus-bagus amat. Sekolah favorit sebagian besar hanya untuk mereka yang memiliki orang tua yang mampu membiayai untuk ikut les dan memanggil guru privat.

Penulis masih ingat benar bagaimana pandangan anak-anak kecil sekitar sekolah ketika penulis memasuki gerbang Kebon Singkong. Entah tidak bersekolah atau memang umurnya belum cukup, mereka sering kali bermain-main di sekitar sekolah.

Setiap kami lewat, mereka akan memandangi dengan beragam tatapan. Penulis biasanya hanya menatap balik sekilas dan balik terburu-buru masuk sekolah. Penulis dalam tulisan ini tak ingin menebak-nebak makna pandangan itu, cuma yang pasti bola mata mereka akan mengikuti kemana kaki kami melangkah dan begitu tiap harinya.

Cuma walau berada di sekitar sekolah cukup sampai di situ cerita pribadi penulis hingga kemudian mencoba bertanya kepada istri yang lulusan SMAN 12 angkatan 2006. "Bu, angkatan ibu ada nggak anak 12 dari Kebon  Singkong,?" tanya penulis.

Istri pun kemudian menjawab,"Ada kayaknya dikit,"

Penulis kemudian bertanya kembali, “Fair nggak bu misalnya anak 12 sekarang isinya anak Kebon Singkong semua?"

"Ya nggaklah, pendidikan bukan cuma soal pemerataan, tapi juga membangun jiwa kompetitif anak murid. Kalau semua tinggal masuk, ya ngapain ada ujian akhir nasional," ucap istri berseloroh.

Itu pandangan istri lalu, bagaimana dengan pandangan teman-teman penulis. Kebetulan penulis punya beberapa teman yang menjadi guru dan 'pernah' menjadi guru di luar pulau.

Hanya tiga orang saja sih dan mereka mengaku senang-senang saja dengan sistem zonasi, namun menjawab pertanyaan penulis dengan setengah bercanda.

"Enak dong zonasi, jadi nggak ada lagi sebutan sekolah unggulan dan terpinggirkan. Lagipula, enak banget guru yang di sekolah unggulan, udah fasilitasnya lengkap, dapat murid juga pintar-pintar, ikut les di luar lagi, jadi effortless kan," tutur teman yang pernah menjadi guru namun kini menempuh S2 di negeri Sakura melalui pesan singkat.

Ada pula yang bijak mengatakan bagus tapi sarana dan prasarana cukup harus diperhatikan. "Ya jangan cuma buat kebijakan tapi lupa meratakan fasilitas,".

Terlepas dari itu sejujurnya penulis mendukung kebijakan ini. Negara khususnya pemerintah saat ini, harus memulai kesetaraan dan tampaknya Menteri berani mengambil kebijakan tak populis.

Karena apa, ini semua demi pemerataan kualitas pendidikan bukan lagi pemerataan kekayaan orang tua. Buat apa prestasi setinggi langit, piala dan piagam tak putus-putus namun anak-anak di sekitar putus sekolah.

Yakinlah bahwa pada akhirnya beberapa tahun lagi, mungkin di 2024 kita semua memiliki kualitas yang sama di seluruh Indonesia. Yakinlah bahwa pemerintah pusat dan daerah akan membangun sarana dan prasarana sekolah dan tak hanya mendirikan tol dan jalanan.

Sehingga ke depan tidak ada lagi sekolah unggulan, favorit atau kebalikannya terpinggirkan. Lagipula apa salahnya punya teman-teman sekolah yang ternyata tetangga kita, dari SD sampai SMA. Karena apapun itu,  tetanggalah yang pertama kali menolong kita saat kita sakit atau bahkan meninggal.

*) Penulis adalah jurnalis republika.co.id

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA