Senin, 2 Jumadil Akhir 1441 / 27 Januari 2020

Senin, 2 Jumadil Akhir 1441 / 27 Januari 2020

Permasalahan Kesehatan di RI Bayangi Revolusi Industri 4.0

Senin 08 Jul 2019 17:28 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), Budi Wiweko

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), Budi Wiweko

Foto: dok
Permasalahan kesehatan seperti penyakit degeneratif membayangi Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kemajuan teknologi digital, big data, artificial intelligence (AI) dan genomik dalam dua dekade terakhir telah membawa semangat serta arus perubahan dalam berbagai bidang termasuk kesehatan.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) Budi Wiweko mengatakan, survei National Health Services (NHS) pada 2019 menyatakan kemajuan teknologi yang saat ini memberikan kontribusi lebih 80 persen terhadap layanan maupun tenaga kesehatan adalah kemampuan dalam menganalisis genomik. Hal itu diikuti oleh penggunaan perangkat telepon pintar, teknologi pengenal suara, penggunaan AI dalam memprediksi, dan penggunaan perangkat diagnostik cerdas.

Meski begitu ia mengatakan, di Indonesia, berbagai permasalahan besar masih membayangi dunia kesehatan pada era revolusi industri 4.0. Data Riset Kesehatan 2018 menunjukkan buruknya indikator berbagai penyakit degeneratif, seperti obesitas, hipertensi, penyakit ginjal kronik dan kencing manis.

"Tidak kurang dari 21,8 persen proporsi penduduk Indonesia mengalami obesitas, prevalensi kencing manis mencapai dua persen, serta jumlah penderita penyakit ginjal kronik yang mencapai 3,8 per mil pada populasi di atas usia 15 tahun," kata Budi berdasarkan rilis yang diterima Republika.co.id, Senin (8/7). 

Menurut dia, angka penyakit itu tergolong tinggi bila dibandingkan dengan prevalensi di negara tetangga atau pun negara maju di dunia.  Tidak hanya itu, kata Budi, dampak kebiasaan merokok yang semakin meningkat juga memiliki kontribusi negatif pada masyarakat.

"Ibu-ibu hamil mengalami anemia, yang menjadi variabel penting penyebab kematian ibu," ujar Budi.

Di sisi lain, lanjut dia, penyakit infeksi tuberkulosis dan demam berdarah masih menjadi momok menakutkan dengan case fatality rate yang cukup tinggi. Indonesia, sambung dia, merupakan negara peringkat kedua untuk prevalensi tuberkulosis tertinggi di dunia, setelah India.  

Budi ditetapkan sebagai guru besar UI pada usia 46 tahun 10 bulan pada 8 September 2018. Budi merupakan staf pengajar Departemen Obstetri Ginekologi (Obgin) FKUI Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM), yang juga menjadi wakil direktur Indonesian Medical Education and Research Institute (IMERI-FKUI).

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA