Wednesday, 8 Sya'ban 1441 / 01 April 2020

Wednesday, 8 Sya'ban 1441 / 01 April 2020

Pemberontak Kongo Didakwa Lakukan Kejahatan Perang

Senin 08 Jul 2019 17:12 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Terduga penjahat perang Kongo Bosco Ntaganda.

Terduga penjahat perang Kongo Bosco Ntaganda.

Foto: telegraph
Pemimpin pemberontak Kongo dituduh mengawasi pembantaian warga sipil.

REPUBLIKA.CO.ID, DEN HAAG -- Jaksa Mahkamah Pidana Internasonal (ICC) mendakwa mantan pemimpin pemberontak Kongo Bosco Ntaganda melakukan kejahatan perang dan kemanusiaan. Dia diduga mendalangi pembantaian serta menggunakan anak-anak sebagai anggota pasukannya. 

Baca Juga

Ntaganda, yang memiliki julukan "Terminator" dituduh mengawasi pembantaian warga sipil oleh pasukannya di Republik Demokratik Kongo, tepatnya di wilayah Ituri, pada 2002 dan 2003. Jaksa menggambarkannya sebagai pemimpin pemberontak etnis Tutsi yang kejam pasca-peristiwa genosida di Rwanda tahun 1994. 

Menurut jaksa penuntut ICC, Ntaganda adalah figur sentral untuk perencanaan dan pelaksanaan operasi Union of Conglose Patriots dan sayap militernya, the Patriotic Forces for the Liberation of Congo (FPLC). Jaksa mengungkapkan, FPLC sedikitnya telah membunuh 800 orang saat bertempur melawan kelompok milisi Kongo lainnya di Ituri. 

Ntaganda kemudian menjadi anggota pendiri kelompok pemberontak M23. Kelompok tersebut berhasil ditumpas pasukan Kongo pada 2013. Di tahun yang sama, Ntaganda menyerahkan diri ke Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Rwanda. Dia kemudian meminta dikirim ke pengadilan ICC di Belanda. 

Ntaganda merupakan tersangka pertama yang menyerahkan diri secara sukarela. Kendati demikian, selama persidangan, dia membantah tudingan yang dilayangkan kepadanya. Ia menolak disebut penjahat. "Saya seorang revolusioner, tapi bukan penjahat," katanya dalam persidangan tahun lalu, seperti dilaporkan Aljazirah.

Ia pun menolak julukan Terminator yang disematkan padanya. Menurutnya, julukan itu tak berlaku baginya. ICC dijadwalkan mengumumkan vonis tentang apakah Bosco bersalah atau bersalah tanpa keraguan pada Senin (8/7).

Lebih dari 60 ribu orang telah terbunuh sejak kekerasan meletus di Ituri pada 1999. Beberapa kelompok milisi di sana terlibat pertempuran dengan tujuan menguasai wilayah yang kaya sumber daya mineral tersebut. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA