Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Inovasi Mahasiswa Unair: Kulit Nanas Jadi Obat Luka

Ahad 07 Jul 2019 12:12 WIB

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Hasanul Rizqa

Tiga mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) yang menginovasikan limbah kulit nanas menjadi obat luka atau gangguan akibat kerusakan dari keutuhan kulit

Tiga mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) yang menginovasikan limbah kulit nanas menjadi obat luka atau gangguan akibat kerusakan dari keutuhan kulit

Foto: Dok. Unair
Kulit nanas dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar obat luka yang efektif

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Tiga orang mahasiswa Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, Jawa Timur, membuat inovasi dari limbah kulit nanas. Dengan bahan baku tersebut, mereka menciptakan obat luka atau penawar gangguan kerusakan kulit.

Baca Juga

Ketiganya adalah Teguh Dwi Saputro (mahasiswa Fakultas Keperawatan), Fina Ainur Rohmah (mahasiswa Fakultas Keperawatan), dan Windi Nurhidayah (mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan).

Menurut Teguh, buah nanas selama ini hanya dimanfaatkan dagingnya saja untuk dimakan atau diubah ke berbagai bentuk olahan pangan lainnya. Adapun kulit nanas cenderng dibuang begitu saja, tanpa dimanfaatkan kembali.

Padahal, kulit nanas mengandung pelbagai zat yang berpotensi menjadi bahan baku obat luka.

"Kulit nanas mengandung zat aktif yang dapat mempercepat penyembuhan luka. Limbah kulit nanas diekstrak terlebih dahulu, kemudian dikembangkan sebagai obat luka dalam bentuk gel," ujar Teguh melalui pesan singkatnya, Ahad (7/7).

Teguh menjabarkan, berdasarkan studi literatur yang dilakukan timnya, kulit nanas mengandung zat flavonoid, tanin, saponin, steroid, fenol, dan asam amino. Seluruhnya bermanfaat dalam proses penyembuhan luka luar.

Inovasi ini tak hanya bermanfaat untuk bidang medis, tetapi juga mengurangi limbah yang cenderung menimbulkan masalah kebersihan.

Teguh menjelaskan proses singkat pembuatan sediaan gel ekstrak kulit nanas. Kulit nanas yang telah dibersihkan, dikeringkan dengan cara diangin-anginkan tanpa terkena sinar matahari langsung.

Selanjutnya, kulit nanas yang telah melalui proses itu dihaluskan dan diekstrak. Ekstrak ini kemudian diolah menjadi sediaan gel.

Ekstrak kulit nanas dibagi menjadi beberapa kosentrasi. Lantas, timnya melakukan uji pada beberapa tikus putih yang telah dilukai insisi.

Proses penyembuhan luka insisi dengan ekstrak kulit nanas ternyata lebih cepat dibandingkan dengan menggunakan obat luka yang biasa beredar di toko-toko.

Teguh mengatakan, ia dan tim memlilih sediaan gel karena memliki beberapa kelebihan. Di antaranya, kandungan air yang tinggi dalam basis gel.

Kandungan ini dapat menyebabkan terjadinya hidrasi pada stratum korneum, sehingga akan memudahkan penetrasi obat melalui kulit. Gel mempunyai sifat yang menyejukkan, melembabkan, mudah pengunaannya, mudah berpenetrasi pada kulit, sehingga memberikan efek nyaman.

"Selain itu gel mudah diaplikasikan pada kulit, tidak mengiritasi dan nyaman digunakan pada kulit. Digunakan basis gel hidrofilik karena daya sebar pada kulit baik, efeknya mendinginkan, tidak menyumbat pori-pori kulit, mudah dicuci dengan air dan pelepasan obatnya baik," ujar Teguh.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA